Sekilas Tentang Psikopat

Beberapa hari yang lalu nih gaess, kita sempat dihebohkan dengan kabar mengenai psikopat asal Indonesia yang tertangkap di negara Inggris. Mungkin kebanyakan dari kita sudah tahu ya berita tersebut kalau ada seorang mahasiswa asal Indonesia yang tertangkap karena memperkosa kurang lebih 190 orang pria….wuiihh ngeri juga ya. Jumlah ini disebutkan sebagai kasus pemerkosaan terbanyak dalam sejarah Inggris yang dilakukan oleh satu orang, bahkan mungkin di dunia.

By the way, sudah pada tahu belum apa sih sebenarnya psikopat itu? Berdasarkan ilmu psikologi, psikopat itu bisa diartikan sebagai individu yang memiliki kelainan psikis atau gangguan kepribadian. Dalam hal ini, seorang psikopat cenderung bersikap kasar, tidak sensitif, atau pun manipulatif.

Banyak orang menyangka bahwa seorang psikopat merupakan seorang yang anti sosial. Memang di beberapa kasus tertentu, psikopat ditemukan sebagai orang yang anti sosial. Namun sebenarnya psikopat ini bisa juga menjadi seorang yang tidak anti sosial dan berbaur dengan masyarakat pada umumnya. Nah loh? Gimana donk?

Menurut dr. Ryu Hasan, pakar neuroscience atau ilmu saraf, seorang psikopat merupakan individu yang kesulitan berempati. Beliau menjelaskan setiap mahkluk hidup memiliki amigdala yaitu bagian dari otak yang menjadi pusat emosi tentang perasaan yang tidak menyenangkan, misalnya takut, gelisah, dan lainnya. Nah, seorang psikopat memiliki gangguan pada amigdala tersebut sehingga dalam perbuatannya yang dianggap relax, dia cenderung tidak merasa takut atau gelisah.

Seorang sikopat yang melakukan perbuatan-perbuatan mengerikan sebenarnya dalam pikirannya, dia sedang merasa dalam kondisi yang relax atau sangat tenang. Inilah yang menjadi alasan dia melakukan hal-hal yang berbeda dengan manusia pada umumnya dalam kondisi pikiran yang tenang tanpa rasa cemas, gelisah, atau takut sedikit pun.

Berdasarkan ilmu neuroscience, pada umumnya psikopat itu merupakan bawaan dari lahir. Artinya seorang psikopat terlahir dengan susunan saraf yang berbeda dengan manusia pada umumnya. Di sisi lain, terdapat beberapa kasus khusus bahwa seseorang bisa menjadi orang lain (Misalnya menjadi psikopat) pada kasus-kasus tertentu, misalnya kecelakaan atau penyakit yang berhubungan dengan otak.

Berdasarkan ilmu psikologi, seorang psikopat memiliki bakat meniru hal-hal yang baik pada suatu populasi. Hal ini merupakan salah satu cara bertahan hidup dan teknik menyesuaikan diri dalam kehidupan sosialnya, karena seorang psikopat (Terutama yang sudah dewasa) sendiri sadar bahwa dia berbeda dengan masyarakat pada umumnya. Bakat meniru hal-hal baik itu seperti meniru mimik wajah seseorang (Sedih, terluka, dan lainnya), meniru bagaimana seseorang dalam kondisi senang, meniru bagaimana berbicara yang baik dan benar kepada lawan bicara, dan lainnya.

Dalam pikiran seorang psikopat, dia adalah manusia biasa yang keberadaannya sama dengan orang lain, sekalipun dia sadar benar kalau sebenarnya dia berbeda. ‘Mau sama, mau beda, who care? Yang penting gue hidup’, mungkin begitu bahasanya yah. Dalam perbedaan itu, secara sadar tidak sadar (Juga didukung oleh pengalaman), seorang psikopat akan menggunakan bakat menirunya untuk hidup berbaur di masyarakat pada umumnya.

Dalam melakukan ‘skenario’ berbaur dalam masyarakat, seorang psikopat sebenarnya tidak merasakan emosi yang sama dengan orang pada umumnya. Contohnya, ketika seorang psikopat sedang tertawa karena bercanda dengan teman-teman, sebenarnya dia tidak merasakan perasaan lucu (Tidak ada emosi), namun yang dia lakukan adalah murni meniru mimik tertawa lucu dan gerakannya. Seorang psikopat justru akan merasakan emosi tenang atau senang ketika dia sedang melakukan perbuatan abnormalnya. Wuah, hebat juga yah, eh tapi seram. Karena bakat ini, banyak orang tidak menyadari bahwa mereka sedang berada di dekat psikopat atau tidak.

Banyak orang mengira bahwa psikopat adalah seorang pembunuh yang anti sosial dan sering menyendiri, atau mungkin sering mengurung diri di kamar sendirian seperti di film. Hal ini memang terjadi pada beberapa kasus, namun sebenarnya banyak juga psikopat yang hidup berbaur dengan masyarakat, bahkan sukses dalam dunia pendidikan atau pekerjaan. Tidak jarang seorang psikopat memiliki gelar yang fantastis atau pun pekerjaan yang terbilang sukses.

Banyak orang menyangka bahwa psikopat lahir dari pengalaman-pengalaman buruk yang terjadi di masa kecilnya. Berdasarkan penelitian, psikopat tidak harus memiliki pengalaman buruk di masa kecilnya, namun dengan melihat hal-hal buruk dapat membangkitkan kesenangannya (Rasa tenang atau relax) untuk menjadi seorang psikopat, misalnya dari tontonan di televisi atau pun internet. Inilah yang disebut bakat, seperti yang sudah dijelaskan di atas.

Dalam perkembangannya, psikopat dan sosiopat dikatakan sama, namun bagi beberapa ilmuan, mereka sebenarnya sedikit berbeda. Psikopat dan sosiopat kondisi otaknya sama. Mereka bisa melakukan kejahatan pada tingkat atau level yang sama kejamnya, namun sosiopat sering melakukan hal-hal yang tidak rapi. Sosiopat melakukan sesuatu secara spontan, namun psikopat melakukan sesuatu dengan terencana. Hal inilah yang menyebabkan psikopat yang sudah dewasa cenderung sukar dikenali dibandingkan dengan sosiopat.

Oh iya gaess, psikopat tidak ada hubungannya dengan referensi seks seseorang yah, seperti homoseksual, bisex, fedofil, atau lainnya. Jika terjadi kasus yang demikian, hal itu bisa dikatakan ada dalam kondisi kebetulan yakni psikopat dengan kecenderungan seks yang menyimpang. Psikopat bisa saja seorang pembunuh, pemerkosa, pencuri, dan lainnya. Yang pasti, seorang psikopat adalah seseorang yang melakukan hal-hal menyimpang dari kebiasaan orang pada umumnya tanpa memiliki rasa bersalah atau emosi kegelisahan dan rasa takut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *