WARUGA…. Warisan Leluhur Minahasa

Sulawesi Utara merupakan salah satu daerah di Indonesia yang terkenal akan wisata bawah lautnya. Taman laut Bunaken sudah menjadi destinasi wisata yang dikenal wisatawan lokal maupun wisatawan asing. Namun selain wisata bawah laut, Sulawesi Utara juga memiliki destinasi wisata andalan untuk para penggemar sejarah dan budaya yang tidak kalah menarik. Waruga adalah salah satu destinasi wisata yang akhir-akhir ini mulai ramai dikunjungi wisatawan baik lokal maupun asing. Waruga ini merupakan objek wisata purbakala, yakni kuburan kuno masyarakat Minahasa yang sudah eksis sejak dahulu sampai pada zaman penjajahan.

Situs peninggalan masyarakat Minahasa ini diperkirakan berkembang diatas abad ke 10. Berdasarkan sejarah masyarakat Minahasa, nama waruga ini berasal dari kata wale dan maruga yang berarti rumah bagi jasad yang akan hancur. Pembangunan waruga ini dihentikan dan dilarang oleh pemerintah Belanda dengan alasan wabah yang berjangkit seperti kolera, tipus, dan lainnya. Pelarangan pemakaman dengan menggunakan waruga dimulai sejak tahun 1860, sementara itu masyarakat Minahasa lama masih tetap membuat waruga. Di tahun 1870, pemerintah Belanda benar-benar menghentikan penggunaan waruga dan memindahkan semua waruga pada satu lokasi di beberapa tempat. Sejak itu kuburan kuno masyarakat Minahasa ini diganti dengan peti mati yang ditanam layaknya penguburan pada bangsa Belanda atau orang Eropa pada umumnya.

Waruga ini pada dasarnya adalah wadah penguburan yakni peti mati yang terbuat dari batu yang diletakkan diatas tanah. Bentuk waruga adalah segi empat atau kubus yang ditutup oleh penutup berbentuk seperti atap rumah. Pada penutup waruga, diberi ukiran-ukiran yang memiliki arti tersendiri, misalnya; Ukiran binatang berarti yang dikubur adalah pemburu, ukiran orang memegang pedang berarti yang dikubur adalah seorang pejuang atau mungkin seorang panglima perang, dan lain sebagainya. Uniknya, waruga ini dibuat oleh orang yang akan menempatinya, artinya secara sengaja dipersiapkan untuk kematian sendiri nantinya.

Selain itu di dalam waruga itu pun juga dimasukkan jasad keluarga orang yang meninggal, artinya satu waruga dapat berisi lebih dari satu orang. Apabila ditemukan waruga yang tidak ada ukirannya sama sekali, kemungkinan waruga itu sudah cukup tua dan eksis pada masa masyarakat belum melakukan atau mengenal seni ukir. Adapun beberapa waruga yang pada sisi penutupnya terdapat ukiran berupa garis yang menandakan jumlah orang yang dikuburkan di dalam waruga tersebut. Seperti yang telah disebutkan bahwa waruga memang menampung beberapa jasad di dalamnya. Jasad dimasukkan ke dalam waruga oleh kerabatnya.

Jasad akan diletakkan diatas sebuah piring lebar lalu diatas kepala jasad pun akan diletakkan piring lebar untuk mengapit jasad agar tidak bergeser. Apabila jasad telah membusuk (Lama-kelamaan menjadi abu), maka piring diatas akan jatuh dan pecah, tandanya waruga boleh kembali diisi oleh jasad lain. Adapun selain jasad, barang kesayangan orang yang meninggal ikut dimasukkan ke dalam waruga, misalnya; Pedang, kalung, piring, jimat, dan lain sebagainya. Umumnya, orang yang dikubur di dalam waruga diletakkan seperti bayi dalam janin, yakni lutut bersentuhan dengan kepala dan tumit menyentuh pantat.

Selain itu apabila kita perhatikan, semua waruga menghadap ke utara. Hal ini berhubungan dengan kepercayaan masyarakat bahwa nenek moyang mereka berasal dari daerah utara. Apabila kita berjalan-jalan ke objek wisata ini dan melihat ada air mineral dan sebatang rokok diatas waruga jangan heran atau berpikir ada yang membuang sampah sembarangan ya, apalagi langsung kita bersihkan. Hal ini merupakan salah satu budaya masyarakat atau kearifan lokal setempat. Sebagian kecil masyarakat adat masih melakukan ritual di waruga untuk menghormati leluhur mereka. Hal ini merupakan kekayaan budaya di Sulawesi utara yang dapat menjadi salah satu daya tarik wisata.

Letak waruga umumnya tersebar di berbagai tempat di Minahasa seperti di Airmadidi, Tomohon, Tondano, dan lainnya. Waruga-waruga ini tadinya terpencar di beberapa lokasi yang berbeda. Pada zaman dahulu, waruga ini diletakkan di dekat rumah keluarga yang meninggal, namun pada masa penjajahan Belanda, waruga-waruga ini dikumpulkan menjadi satu di beberapa lokasi dengan alasan bahwa waruga dapat menyebabkan penyakit kepada masyarakat. Oleh karena itu masa sekarang ini kita dapat melihat waruga pada umumnya berkumpul jadi satu lokasi atau lebih tepatnya lahan pekuburan.

Waruga yang paling umum diketahui wisatawan adalah waruga di daerah Minahasa Utara, yakni di desa Sawangan. Jarak tempat ini dari kota Manado sekitar setengah jam ditempuh dengan kendaraan bermotor. Waruga di desa Sawangan ini dipugar pada tahun 1977/1978. Kelebihan dari waruga di desa Sawangan ini adalah memiliki pemandu wisata dibandingkan kompleks waruga di tempat lain. Selain itu, tepat di depan kompleks waruga terdapat sebuah museum yang berupa rumah adat minahasa. Namun sayangnya, barang-barang di dalam museum ini tinggal sedikit karena menurut pemandu wisata, beberapa barang sudah dipindahkan ke museum di Manado.

Adapun beberapa barang yang tersisa berupa kalung manik, piring-piring kuno, keris, dan beberapa pernak-pernik lainnya. Tidak jauh dari waruga di desa sawangan, terdapat juga dua kompleks waruga di daerah Airmadidi bawah dan di kelurahan Rap Rap. Waruga Airmadidi bawah dan waruga Rap Rap ini lokasinya berdekatan sehingga dapat ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 5 menit. Kedua area waruga ini masih asri walaupun berdekatan dengan pemukiman penduduk, juga kebersihan kedua lokasi waruga ini sangat diperhatikan. Lokasi waruga Rap Rap berada di sekitar pemakaman umum penduduk setempat, sedangkan lokasi waruga Airmadidi bawah berada bersebelahan dengan objek wisata Tumatenden. Kompleks waruga di Airmadidi bawah ini jumlahnya lebih banyak dibandingkan yang terdapat di kelurahan Rap Rap.

Berdasarkan cerita masyarakat maupun tuturan pemandu wisata waruga, awalnya sebelum masa penguburan dengan waruga, masyarakat minahasa kuno menguburkan jasad dengan menggunakan daun woka (Sejenis janur) yang dibungkus pada jasad dan dikuburkan di dalam rongga pohon. Adapun jasad tersebut sebelum dikuburkan terlebih dahulu telah dibungkus dengan rempah-rempah untuk mengawetkan jasad. Daun teh menjadi salah satu bahan rempah yang digunakan pada jasad yang meninggal.

Hal yang paling disayangkan dari keberadaan waruga adalah adanya pencurian terhadap isi waruga maupun ornamen pada waruga tersebut. Situs budaya waruga ini dijarah oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Adapun isi dari waruga berupa keris, kalung, piring, jimat, serta barang-barang kesayangannya yang dipercaya oleh sebagian orang dapat membawa keberuntungan dan keselamatan. Selain itu, barang-barang tersebut memiliki nilai tersendiri dan dihargai sangat mahal. Barang-barang ini diperdagangkan di ‘pasar gelap’.

Adapun selain isi dari waruga, patung-patung atau ukiran pada waruga pun dijarah oleh beberapa oknum nakal. Selain penjarahan, kerusakan situs waruga ini terjadi secara alami, artinya keadaan alam yang memakan usia suatu objek, misalnya gempa bumi atau kelembapan tanah yang membuat sobjek diatasnya tenggelam. Adapun isu yang sempat menjadi viral di media khususnya daerah Minahasa Utara yakni proyek pembangunan pemerintah yang ternyata di lokasi yang sama terdapat waruga yang sebelumnya tidak diketahui (Beberapa alat berat menghancurkan waruga ketika akan memindahkan waruga tersebut). Hal-hal seperti diatas tentunya harus menjadi perhatian khusus bagi dinas pariwisata dan pemerintah juga dukungan dari masyarakat setempat karena nilai sejarah keutuhan sebuah waruga sangatlah mahal dan waruga sudah menjadi situs budaya warisan bangsa Minahasa.

Selain penguburan dengan waruga, adapun di beberapa daerah Minahasa penguburan kuno menggunakan media tempayan yang dibuat dari tanah liat dimana jenasah diletakkan didalamnya. Sayang sekali media ini mungkin tidak bertahan lama dibandingkan dengan waruga yang terbuat dari batu sehingga eksistensinya tidak banyak ditemukan. Ada juga penemuan kuburan kuno di daerah Sulawesi Utara ini berupa tulang-belulang manusia zaman dahulu yang terdapat di dalam goa. Kuburan goa ini ditemukan di daerah Talaud yakni goa Totombatu dan di daerah Bolaang Mongondow yakni kubur tebing batu Toraut.

Waruga Sawangan

<b>WARUGA.... Warisan Leluhur Minahasa</b>

Kompleks waruga di desa Sawangan ini berada bersebelahan dengan area pemakaman umum masyarakat setempat namun letaknya dipisahkan oleh pagar pembatas. Walau demikian, sedikit kuburan tua (Dari zaman Belanda) di area tersebut. Kelebihan waruga ini dibandingkan dengan kompleks waruga lainnya yakni menyediakan pemandu yang akan menjelaskan tentang asal usul waruga dan sebagainya. Adapun di depan pintu gerbang kompleks waruga ini terdapat relief yang menceritakan bagaimana proses waruga itu dibuat hingga penguburan dalam waruga.

Untuk masuk ke kompleks waruga ini dikenakan biasa Rp. 10.000 per orang. Selain itu, tepat disamping area waruga terdapat museum yang menyimpan beberapa benda purbakala. Sayang sekali beberapa benda telah dipindahkan ke museum di Manado, namun pengunjung tetap dapat melihat beberapa benda peninggalan leluhur Minahasa. Jarak kompleks waruga Sawangan ini dari pusat kota Manado sekitar 25 Km yang dapat ditempuh kurang lebih 1 jam 10 menit dengan kendaraan bermotor. Apabila kita ingin menggunakan kendaraan umum, kita bisa naik angkutan kota atau mikrolet dari terminal Paal 2 dengan jurusan Airmadidi kemudian turun pertigaan lampu merah Airmadidi atau bisa juga turun di pasar Airmadidi. Dari tempat ini bisa melanjutkan perjalanan menggunakan ojek ke Taman Purbakala Waruga Sawangan.

<b>WARUGA.... Warisan Leluhur Minahasa</b>

<b>WARUGA.... Warisan Leluhur Minahasa</b>

<b>WARUGA.... Warisan Leluhur Minahasa</b>

<b>WARUGA.... Warisan Leluhur Minahasa</b>

Waruga kelurahan Rap Rap

<b>WARUGA.... Warisan Leluhur Minahasa</b>

Waruga di kelurahan Rap Rap ini berada di area pemakaman umum masyarakat setempat namun terpisah dengan pemakaman umum itu. Kompleks waruga ini sangat bersih dan terawat. Kelebihan waruga ini yakni berada berdekatan dengan kompleks waruga Airmadidi bawah yang dapat ditempuh selama 5 menit dengan berjalan kaki. Untuk masuk ke area waruga ini tidak dikenakan biaya.

Berdasarkan pengamatan, terdapat 29 waruga di tempat ini. Jarak area waruga ini dari pusat kota Manado sekitar 23 Km dengan jarak tempuh 1 jam dengan kendaraan bermotor. Jika kita ingin menggunakan kendaraan umum, kita bisa naik angkutan kota atau mikrolet dari terminal Paal 2 dengan jurusan Airmadidi kemudian turun di bundaran (Tugu yang terletak di pertigaan). Dari bundaran kita bisa naik ojek untuk sampai ke area waruga atau bisa juga berjalan kaki sekitar 10 menit.

<b>WARUGA.... Warisan Leluhur Minahasa</b>

Waruga Airmadidi Bawah

<b>WARUGA.... Warisan Leluhur Minahasa</b>

Waruga di airmadidi ini berada di dekat pemukiman penduduk. Selain itu, kelebihan kompleks ini adalah bersampingan dengan objek wisata Tumatenden yang dapat dikunjungi oleh wisatawan dan juga berdekatan dengan kompleks waruga kelurahan Rap Rap. Area waruga ini sangat terawat. Dari pintu masuk utama, terdapat 4 waruga besar berada di depan yakni waruga opo Wagiu, opo Tanod, opo Koloay, dan opo Lengkong yang kemudian diletakkan waruga-waruga yang lebih kecil di bagian belakang.

<b>WARUGA.... Warisan Leluhur Minahasa</b>
Waruga Opo Wagiu

Untuk masuk ke dalam kompleks ini pengunjung tidak dikenakan biaya. Jarak area waruga ini dari pusat kota Manado sekitar 23 Km dengan jarak tempuh 1 jam dengan kendaraan bermotor. Apabila kita ingin menggunakan kendaraan umum, kita bisa naik angkutan kota atau mikrolet dari terminal Paal 2 dengan jurusan Airmadidi kemudian turun di bundaran (Tugu yang terletak di pertigaan Airmadidi). Dari bundaran kita bisa naik ojek untuk sampai ke area waruga atau bisa juga berjalan kaki sekitar 15 menit.

<b>WARUGA.... Warisan Leluhur Minahasa</b>

<b>WARUGA.... Warisan Leluhur Minahasa</b>

<b>WARUGA.... Warisan Leluhur Minahasa</b>

Waruga Wanua Ure Sukur

<b>WARUGA.... Warisan Leluhur Minahasa</b>

Kompleks waruga wanua ure ini berada di desa Sukur. Wanua ure sendiri adalah bahasa setempat yang memiliki arti kampung tua. Lokasinya waruga ini sedikit masuk lebih dalam dari jalan raya Manado- Airmadidi. Lokasi ini dapat ditempuh kurang lebih 2 sampai 4 menit dengan menggunakan kendaraan bermotor dari arah jalan raya tadi. Area waruga ini cukup luas namun jumlah waruganya tidak terlalu banyak. Selain waruga, ada juga beberapa kuburan lama (Kuburan dari zaman Belanda) di area ini.

<b>WARUGA.... Warisan Leluhur Minahasa</b>
Petunjuk arah dari jalan raya Manado – Airmadidi

Untuk masuk ke dalam area ini, pengunjung tidak dikenakan biaya apapun. Apabila pengunjung tidak menggunakan kendaraan pribadi, ada baiknya untuk mencapai area waruga ini pengunjung disarankan menyewa ojek pulang-pergi dari jalan utama karena di sekitar lokasi waruga ini tidak terlihat pangkalan ojek, lagipula lokasinya berdekatan dengan proyek pembangunan jalan tol. Tidak jauh dari lokasi kompleks waruga ini terdapat kompleks waruga Rap Rap yang dapat ditempuh dengan kendaaran bermotor dengan jarak tempuh 5-10 menit melewati jalan pedesaan.

<b>WARUGA.... Warisan Leluhur Minahasa</b>

<b>WARUGA.... Warisan Leluhur Minahasa</b>

Waruga Maumbi

Kompleks waruga yang berada di desa Maumbi ini berada di dua lokasi yang bersebelahan, yakni lahan pemakaman keluarga Enoch dan area kantor desa yang dipisahkan oleh pagar kantor desa. Pada lahan pemakaman keluarga ini, terdapat 5 waruga dengan 1 waruga yang ukirannya cukup unik dan sangat rapi dibandingkan waruga-waruga yang ada di tempat lain. Biasanya tutup waruga berbentuk seperti atap rumah, namun salah satu waruga Maumbi ini berbentuk kerucut dengan ukiran 4 orang menghadap ke segala arah.

Selain itu, menurut cerita dulunya tempat ini merupakan lahan pemakaman umum, namun karena lahan tersebut dipindah dan didirikan kantor desa di sekitar lokasi ini kemudian dibangun pagar di sekeliling kantor desa, maka seolah waruga-waruga ini terpisah. Untuk melihat waruga-waruga ini tidak dikenakan biaya apapun. Kelebihan kompleks waruga di tempat ini yakni hanya berada di pinggir jalan utama M anado-Airmadidi. Jarak tempat ini dari pusat kota Manado kurang lebih 11 Km yang dapat ditempuh selama 30 menit dengan kendaraan bermotor. Apabila ingin menggunakan angkutan umum, kita bisa menggunakan angkutan kota atau mikrolet menuju terminal Paal 2 kemudian berganti mikrolet jurusan Airmadidi. Kita bisa bilang ke supir untuk turun di waruga Maumbi atau di lorong kantor desa Maumbi.

<b>WARUGA.... Warisan Leluhur Minahasa</b>

<b>WARUGA.... Warisan Leluhur Minahasa</b>

Waruga Kakaskasen

<b>WARUGA.... Warisan Leluhur Minahasa</b>

Waruga yang berlokasi di Kakaskasen Kota Tomohon, tidak jauh dari patung opo Worang di pinggir jalan utama Tomohon-Manado. Waruga di tempat ini hanya terdiri dari 5 waruga, yaitu waruga opo Worang, opo Rumondor, opo Mandagi, opo Kalalo, dan opo Lasut. Kondisi area waruga ini rapi dan terawat. Kompleks waruga ini berada diantara kompleks pemukiman penduduk.

Untuk melihat waruga ini, pengunjung tidak dikenakan biaya. Jarak tempuh kompleks area waruga ini dari pusat kota Manado adalah 23 Km dengan waktu tempuh kurang lebih 1 jam menggunakan kendaraan bermotor. Apabila ingin menggunakan kendaraan umum, kita bisa menggunakan bis kota jurusan Tomohon dari terminal Karombasan. Sampai di terminal Tomohon, dilanjutkan menggunakan mikrolet jurusan Kakaskasen.

<b>WARUGA.... Warisan Leluhur Minahasa</b>

Waruga Tololiu Palar

<b>WARUGA.... Warisan Leluhur Minahasa</b>

Tololiu Palar adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah Minahasa, terutama sejarah etnis Tombulu. Beliau dulunya menjabat sebagai hukum tua di wilayah Tomohon. Di pusat kota Tomohon ini—tepatnya di pertigaan jalan utama—didirikan patung opo Tololiu, dimana beberapa meter dari situ terdapat waruga dari opo Tololiu Palar. Waruga opo Tololiu ini berada di pinggir jalan raya Tomohon sehingga untuk melihat waruga ini tidak dikenakan biaya. Area waruga ini dipagari dengan rapi dan kondisinya cukup terawat.

<b>WARUGA.... Warisan Leluhur Minahasa</b>

<b>WARUGA.... Warisan Leluhur Minahasa</b>

Masih terdapat beberapa lokasi waruga yang belum sempat kami kunjungi seperti waruga Tondano, waruga Woloan, waruga Lotta Pineleng, waruga Kawangkoan, waruga Treman, dan masih banyak lain. Waruga-waruga ini akan kami bahas pada kesempatan yang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *