Belajar Bahasa Tombulu

Bahasa Tombulu adalah salah satu bahasa daerah di Indonesia yang dituturkan oleh masyarakat Tombulu di tanah Minahasa, Sulawesi Utara. Tombulu merupakan salah satu dari 9 etnis Minahasa, selain Tontemboan, Toulour, Tonsea, Tonsawang, Pasan, Ratahan, dan Toubantik. Selain itu, etnis Tombulu juga disebut-sebut sebagai salah satu dari 4 etnis Malesung oleh masyarakat Sulawesi Utara. Bahasa Tombulu hingga saat ini masih dipakai oleh masyarakat adat Tombulu dan masih bisa dituturkan oleh sebagian generasi muda – dimana bila dibandingkan dengan bahasa asli sebagian besar etnis Minahasa lainnya yang sudah sangat terancam punah.

Penyebutan Tombulu sendiri menurut tuturan masyarakat setempat berasal dari kata ‘Touwulu’ dimana kata ‘Tou’ berarti ‘Orang/Manusia’ atau ‘Masyarakat’ atau dan ‘Wulu’ yang berarti ‘Buluh/Bambu’. Tidak ada penelitian yang pasti mengapa masyarakat ini menamakan komunitasnya Touwulu atau mungkin kata itu merupakan sebutan dari suku lain untuk menyebut komunitas ini, namun menurut cerita masyarakat setempat kemungkinan ‘Wanua’ atau perkampungan dahulu banyak ditumbuhi pohon bambu. Ada pula versi lain yang mengatakan bahwa dulunya suku ini membentengi wilayahnya dengan pagar yang terbuat dari bambu sehingga mereka disebut Tou Wulu atau Tou un bulu yang seiring berjalannya masa dan juga dipengaruhi oleh dialek menjadi Tombulu. Selain penyebutan Tombulu atau Touwulu, sebenarnya ada satu penyebutan yang lebih lama eksistensinya yakni Tou Mayesu.

Sejarah singkat Tou Mayesu ini menurut kepercayaan Tombulu sendiri adalah dahulu kala terdapat tiga manusia pertama yakni Raema dan putra putrinya. Pada suatu saat, mereka berdiam di suatu daratan tinggi dan melihat suatu dataran yang berbentuk lesung (Cekungan) dimana daerah itu akhirnya dinamakan Malesung. Raema berdoa kepada Opo Empung (Tuhan) dan mendapat petunjuk agar anak-anaknya dapat menempati tanah yang subur itu. Putra Raema harus berjalan ke arah selatan, sedangkan putrinya ke arah utara dari tanah Malesung itu dengan masing-masing membawa sebuah batang Tawaang. Apabila mereka nantinya bertemu dan batang itu tidak sama panjang, maka putra dan putri ini boleh menikah dan memiliki keturunan di tempat itu, lalu mereka harus berganti nama. Akhir dari cerita ini adalah kedua kedua anak itu bertemu di suatu tempat yang bernama Mayesu lalu mereka menikah dan beranak cucu di tanah Malesung. Raema pun berganti nama menjadi Karema, lalu putra dan putrinya ditu dinamakan Toar dan Lumimuut.

Continue readingBelajar Bahasa Tombulu