Belajar Bahasa Wolio

Belajar bahasa Wolio tentunya sangat diperlukan bagi masyarakat adat terkait di pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Memang masyarakat adat yang menggunakan bahasa Wolio di daerahnya mungkin sudah terbiasa sejak kecil dalam menggunakan bahasa daerah, namun biasanya keluarga yang merantau keluar pulau dan tinggal bertahun-tahun lamanya, kemungkinan besar generasi kedua dan seterusnya dari keluarga ini cenderung melupakan bahasa adatnya sendiri. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa bahasa-bahasa asli di Nusantara ini merupakan salah satu dari kekayaan budaya dan menjadi identitas suatu bangsa.

Pulau Buton sendiri termasuk ke dalam wilayah kabupaten Buton dengan ibukota Bau Bau, Sulawesi Tenggara. Memang bahasa Wolio bukan merupakan satu-satunya bahasa yang terdapat di kabupaten ini karena terdapat beberapa suku yang mendiami daerah ini. Bahasa-bahasa yang ada di daerah ini selain bahasa Wolio adalah bahasa Lowito, bahasa Pancana, dan bahasa Laiwu. Keunikannya adalah bahasa Wolio ini memiliki peranan besar dan menjadi bahasa pendukung dalam komunikasi antar daerah, sehingga penutur-penutur bahasa lain di daerah ini juga dapat mengerti dan menuturkan bahasa Wolio.

Bahasa Wolio sendiri tergolong kedalam turunan bahasa Austronesia. Bahasa ini menjadi bahasa resmi yang dipergunakan dalam kesultanan Buton. Karena hal inilah beberapa daerah di kesultanan Buton walaupun memiliki bahasanya sendiri, namun dapat mengerti dalam bertutur kata dengan menggunakan bahasa Wolio. Bahasa Wolio sendiri keliahatannya mendapat banyak pengaruh dari bahasa Arab. Hal ini sah-sah saja karena memang mayoritas masyarakat di daerah Buton memeluk agama Islam. Pengaruh penyebaran agama Islam di tempat ini memberikan istilah-istilah baru kepada masyarakat adat. Dengan pengaruh dialek setempat, istilah-istilah tadi menambah kekayaan bahasa pada masyarakat Wolio.

Continue reading “Belajar Bahasa Wolio”