Belajar Bahasa Tontemboan Minahasa

Bahasa Tontemboan adalah salah satu bahasa yang dipakai di Sulawesi Utara oleh etnis Tontemboan. Etnis Tontemboan sendiri adalah salah satu etnis dari 9 etnis yang eksis di Minahasa. Dalam kajian Antropologi dan bahasa, etnis Tontemboan dan bahasanya sendiri tergolong dalam rumpun Austronesia-Polinesia-Proto Melayu-Minahasa. Saat ini bahasa Tontemboan masih dipakai oleh sebagian masyarakat di daerah Minahasa dan kota Manado.

Etnis Tontemboan dalam sejarahnya mengalami beberapa kali penyebutan misalnya Tounpakewa (Kemudian dikenal dengan Tompakewa) yang berasal dari kata ‘Tou’ yang artinya ‘Orang’ dan kata ‘Pakewa’ yakni sejenis tumbuhan lokal yang ada di Minahasa. Selain Tounpakewa, kelompok ini juga dikenal dengan penyebutan Tounkimbut dimana asal kata ‘Kimbut’ yakni penutup kemaluan atau cawat. Sebutan Tounkimbut sendiri menurut orang-orang Belanda adalah sejenis lelucon lokal atau ejekan yang digunakan suku lain untuk menyebut kelompok ini. Seiring dengan berjalannya waktu, kelompok ini juga dikenal dengan sebutan Tou un temboan atau Tountemboan, yakni kelompok yang tinggal di daerah bukit yang tinggi atau terjemahan sederhananya orang gunung. Kata ‘Temboan’ sendiri berarti dataran yang agak tinggi.

Seiring berjalannya masa, sebutan Tountemboan berubah bunyi menjadi Tontemboan. Hal ini mungkin dipengaruhi dialek-dialek yang majemuk yang ada di Minahasa. Dalam perkembangannya, bahasa Tontemboan terdiri dari dua dialek yaitu Makela’i dan a Matana’i. Dialek Makela’i dipakai oleh penduduk sekitar wilayah Langowan, Tompaso, Rumoong, Amurang, dan sebagian Tompaso Baru. Sedangkan dialek Matana’i dipakai oleh penduduk sekitar wilayah Kawangkoan dan Sonder. Dalam perbedaan dialek bahasa ini, struktur bahasanya masih sama atau agak mirip sehingga penduduk yang memakai dialek yang berbeda masih bisa mengerti satu sama lain.

Continue readingBelajar Bahasa Tontemboan Minahasa