Share

Tumatenden Dan Bidadari Dari Kayangan

<b>Tumatenden Dan Bidadari Dari Kayangan</b>

Kolam Tumatenden, Airmadidi Bawah

Minahasa Utara memiliki beberapa objek wisata yang sejalan dengan sejarah atau cerita rakyat lokal di tempat itu, salah satunya Tumatenden. Tumatenden adalah kolam permandian dengan 9 pancuran dimana tempat ini memiliki cerita rakyat tentang kisah cinta seorang pemuda dan bidadari dari kayangan. Pemuda ini bernama Mamanua, sedangkan bidadarinya bernama Lumalundung.

Lokasi Tumatenden berada di kelurahan Airmadidi bawah. Tempat permadian ini letaknya bersebelahan (Dipisahkan dengan jalan perkampungan) dengan kompleks waruga Airmadidi bawah. Jarak Tumatenden dari jalan umum kurang lebih 100 meter dari jalan raya Airmadidi-Sawangan sehingga sangat mudah dijangkau oleh wisatawan.

Kisah antara pemuda dan bidadari dari kayangan seperti Mamanua dan Lumalundung nyatanya juga berada di tempat lain dengan cerita yang hampir mirip, misalnya; kisah tentang Kasimbaha dan Utahagi pada suku Bantik di Minahasa, kisah Sense Madunde dan Sagheno pada masyarakat Sanger, kisah Awang Sukma dan Putri Bungsu pada suku Dayak di Kalimantan Selatan, atau cerita tentang Jaka Tarub dan Nawang Wulan pada masyarakat Jawa. Masing-masing cerita ini mengisahkan tentang seorang pemuda yang bertemu dengan kumpulan bidadari dari kayangan di suatu kolam atau telaga kemudian dikisahkan pemuda ini mencuri selendang seorang bidadari yang kemudian nantinya ia memperistri bidadari itu. Kisah yang serupa ini mungkin merupakan bukti bahwa suku-suku ini memiliki keterkaitan pada zaman dahulu, namun hal ini hanya merupakan asumsi-asumsi yang sampai sekarang belum ada penelitian lebih lanjut. Lepas dari cerita rakyat ini yang hampir mirip ini, menurut ilmu Antropologi bahwa memang suku-suku di Indonesia dulunya berasal dari satu bangsa yakni Austronesia.