Puing-Puing Benteng Moraya, Saksi Bisu Perang Tondano

<b>Puing-Puing Benteng Moraya, Saksi Bisu Perang Tondano</b>

Benteng Moraya berlokasi di sekitaran Boulevard Tondano. Mungkin apabila wisatawan mendengar sekilas tentang benteng Moraya akan berpikir bahwa ini sebuah bangunan besar peninggalan zaman dahulu namun sebenarnya tidak demikian. Benteng Moraya hanya menyisakan sedikit benda fisik yang bisa kita lihat. Walaupun demikian nilai sejarah di tempat ini begitu besar dan tidak dapat dinilai dengan angka. Di tempat inilah dulunya segenap rakyat Minahasa terutama masyarakat Tondano mengadu nyawa demi mengembalikan harga diri bangsa Minahasa terhadap Hindia-Belanda .

Berawal dari kedatangan Belanda di Minahasa yang mula-mula sebenarnya disambut dengan baik oleh masyarakat Minahasa karena awalnya mereka datang dengan cara yang sopan dan baik. Selain itu, ada harapan dari rakyat Minahasa bahwa Belanda akan membantu rakyat Minahasa dalam mengusir perompak-perompak dari Mindanao (Filipina) dan membantu dalam peperangan dengan orang Spanyol dan Portugis. Persahabatan ini berlanjut hingga ke perjanjian Verbond 10 Januari 1679 dimana kurang lebih isi perjanjian itu mengatakan bahwa Minahasa (Bangsa dan teritorinya) diakui kedaulatannya dan Minahasa adalah sekutu Belanda dan akan saling membantu. Hal ini berbeda dengan daerah-daerah di Hindia-Belanda yang memang dijajah oleh Belanda. Bagi rakyat Minahasa, perjanjian Verbond ini sangat penting karena setidaknya dapat menjamin kelangsungan hidup rakyat Minahasa tempo dulu, atau dengan kata lain perjanjian ini sudah menjadi bagian dari adat istiadat bangsa Minahasa. Pelanggaran-pelanggaran terhadap adat istiadat tentunya harus ada sanksi. Lama-kelamaan, sikap Belanda terhadap Minahasa mulai berubah.

Menurut beberapa literatur bahwa telah terjadi perebutan kekuasaan di Eropa dimana kerajaan Belanda telah dikuasai kerajaan Perancis. Hal ini berdampak pada daerah Hindia-Belanda (Daerah kolonial) juga pada bangsa Minahasa yang sebenarnya bukan daerah kolonial. VOC (Kompeni) yang saat itu berkuasa di Hindia-Belanda, mulai bersikap dingin dan membuat geram orang Minahasa, misalnya; Mulai dari mengatur sistem pemerintahan masyarakat yang sudah ada, penanaman kopi dengan iming-iming kesejahteraan masyarakat, hingga hal-hal yang tidak dapat di toleransi seperti menangkap dan membunuh beberapa orang Minahasa. Kepala suku diganti dengan kepala balak kemudian menjadi kepala walak dimana fungsinya juga diganti, pajak mulai diberlakukan padahal Belanda bukan penguasa dan Minahasa bukan bawahan, hingga berlanjut pada pemerkosaan terhadap wanita-wanita lokal dan menangkap tokoh-tokoh masyarakat, tentu saja hal-hal ini mulai membuat masyarakat Minahasa geram dan karena Belanda sudah mencemarkan perjanjian yang mereka buat sendiri. Kesepakatan dari beberapa walak terjadi, bahwa Belanda tidak layak ada di tanah Minahasa. Berdasarkan sejarah bangsa Indonesia, memang kedatangan Belanda di wilayah nusantara adalah untuk memperluas wilayah kerajaan (Kerajaan Belanda) dan memperoleh kekuasaan dalam memonopoli perdagangan (VOC).

Sikap semena-mena Belanda mulai dibenci oleh masyarakat Tondano. Hal ini menimbulkan kesepakatan untuk berperang melawan Belanda. 1 Juni 1661 hingga 1664, perang Tondano yang pertama terjadi. Segenap masyarakat Minawanua (Sebuah kampung tua di Tondano) yang bermukim sekitaran danau Tondano (Dano Toulour) membuat infrastruktur perang khas alifuru yang cukup baik. Peperangan ini terjadi diatas air dan rawa dimana kaum perempuan juga terlibat dalam peperangan. Inilah perang Tondano yang pertama. Perang Tondano yang kedua terjadi pada tahun 1681 hingga 1682 dimana kampung Minawanua diserbu oleh serdadu Belanda dan antek-anteknya. Perang Tondano yang ketiga terjadi pada tahun 1707 hingga 1771 sementara perang Tondano yang keempat terjadi pada tahun 1807 hingga 1809. Selama perang ini, masyarakat Tondano terkenal dengan taktik gerilya yakni berperang di air dan rawa. Beberapa pasukan disebut sebagai ‘hantu-hantu air’ karena teknik perangnya. Selain masyarakat Tondano, masyarakat Minahasa lainnya juga turut membantu dalam peperangan ini.

Perang Tondano sebenarnya bukan perang yang hanya dilakukan oleh masyarakat Tondano sendiri, namun segenap masyarakat Minahasa pada waktu itu. Inilah salah satu makna kata Minahasa yang artinya menjadi satu atau bersatu. Disebut perang Tondano karena perang ini berada di sekitaran danau Tondano.

Pada bulan September 1808 hingga April 1089 , Belanda terus menggempur Minawanua namun Minahasa selalu memenangkan peperangan. Pada bulan Juni 1809, Kapten Winter (Veteran perang Napoleon) memimpin perang. Pihak Belanda dibawah komando Kapten Winter mengatur strategi perang dengan mengepung benteng pertahanan Minahasa dan memutuskan jalur bantuan di Tondano. Karena hal ini, beberapa orang ketakutan dan meninggalkan Minawanua, namun masih ada ksatria-ksatria pemberani yang siap mati dan terus bertahan demi harga diri dan kebebasan masyarakat Minahasa. Perang ini berakhir dengan menyedihkan dimana penduduk setempat dibantai tanpa belas kasihan dan pandang bulu (Sampai hewan peliharaan pun dibunuh). Benteng-benteng pertahanan pun dihancurkan. Konon hampir seluruh permukaan air danau dan sungai di sekitar menjadi merah karena genangan darah para pemberani yang rela mempertahankan daerahnya hingga titik darah penghabisan. Sejak saat itu, sebuah benteng yang menghadap Koya disebut benteng Moraya yang artinya terdapat genangan darah dimana-mana. Dalam Vergading Raad van Politie di Ternate tanggal 30 Desember 1808, menyebutkan bahwa Kapten Winter sempat membuka topi perwiranya sebagai penghormatan di hadapan mayat-mayat pahlawan Tondano di benteng Moraya sambil berkata, “Mereka yang korban ini adalah patriot-patriot sejati”. Benteng Moraya ini menjadi saksi betapa lebih berharganya sebuah kebebasan dari penindasan bila dibandingkan dengan nyawa.

Area benteng Moraya sekarang ini, khususnya di bagian depan kita dapat melihat beberapa tonggak besar yang memiliki relief tentang sejarah perang di Tondano yakni rakyat Minahasa melawan Belanda. Pada bagian tengah terdapat menara berlantai empat, kemudian bagian belakang terdapat amphiteater dimana di dindingnya terdapat ukiran nama-nama marga di Minahasa (Walaupun belum semuanya tertulis). Selain itu, di bagian belakang juga terdapat beberapa kayu besar berbentuk tiang yang berdiri. Kayu-kayu inilah yang merupakan sisa-sisa benteng Moraya yang dibakar oleh Belanda. Waruga-waruga pun terdapat di tempat ini. Beberapa waruga ini adalah waruga yang ditemukan berdekatan dengan benteng Moraya (Waruga rakyat Minawanua) kemudian dipindahkan. Selain itu, di tempat ini pun terdapat beberapa rumah makan khas Sulawesi Utara di bagian tengahnya. Di tempat ini juga biasanya kita bisa menjumpai beberapa orang yang menggunakan baju adat perang khas Minahasa lengkap dengan atributnya dan burung manguni yang menjadi icon Minahasa. Tidak jauh dari benteng Moraya, terdapat patung Korengkeng dan Sarapung, yaitu patung 2 orang pahlawan dalam sejarah perang Tondano. Untuk dapat menikmati keindahan benteng Moraya, pengunjung tidak dikenakan biaya apapun.

<b>Puing-Puing Benteng Moraya, Saksi Bisu Perang Tondano</b>

<b>Puing-Puing Benteng Moraya, Saksi Bisu Perang Tondano</b>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *