Beralihnya Suku Bantik Dari Aliran Kepercayaan Ke Agama Kristen

Suku Bantik merupakan salah satu suku yang berada di tanah Minahasa, provinsi Sulawesi Utara. Suku Bantik sendiri menjadi salah satu suku yang sejak dahulu kala sudah menempati sebagian besar daerah di kota Manado dan 2 daerah di perbatasan Minahasa dan Bolaang Mongondow. Saat ini masyarakat Bantik banyak memeluk agama Kristen dan Islam.

Suku Bantik yang berada di kota Manado mayoritas memeluk agama Kristen. Agama Kristen sendiri mulanya dibawa oleh orang-orang Eropa ketika mereka berhasil menjangkau ujung utara pulau Sulawesi. Mereka adalah bangsa Spanyol, Portugis, dan Belanda. Penyebaran agama Kristen di Minahasa memang awalnya dibawa oleh bangsa Spanyol dan Portugis, namun pada akhirnya Spanyol dan Portugis benar-benar terusir dari tanah Minahasa. Penyebaran agama Kristen ini akhirnya dilanjutkan oleh misionaris-misionaris dari negeri Belanda (Ketika Belanda mulai berkuasa di Minahasa) di kemudian hari.

Penyebaran agama Kristen di tanah Minahasa tidak dapat dikatakan berjalan dengan mudah pada awalnya. Selalu saja ada penolakan dari masyarakat setempat karena masyarakat setempat memandangnya sebagai budaya asing, terutama dalam hal ketuhanan. Oleh sebab itu pemerintah Belanda awalnya lebih berfokus membangun peradaban di tanah Minahasa. Sambil membangun peradaban, Injil pun terus diberitakan. Ketika banyak dari suku di Minahasa mulai menerima peradaban, disinilah agama Kristen mulai diterima oleh masyarakat setempat.

Continue reading “Beralihnya Suku Bantik Dari Aliran Kepercayaan Ke Agama Kristen”

Asal Mula Hari Pengucapan Syukur di Minahasa

Hari pengucapan syukur atau biasa disingkat pengucapan merupakan tradisi masyarakat Minahasa pada umumnya. Hari raya ini sudah melekat pada masyarakat Minahasa sejak zaman dahulu kala. Tidak ada yang tahu pasti sejak kapan tradisi dimulai namun masyarakat Minahasa sudah melakukan tradisi ini turun temurun dari leluhur mereka sehingga pada hari-hari sekarang ini tradisi hari pengucapan syukur ini sudah menjadi bagian dari budaya Minahasa.

Pengucapan syukur dulunya merupakan hari sesudah panen besar yang dilakukan oleh etnis-etnis di Minahasa. Masa sesudah panen ini biasanya dirayakan oleh masyarakat adat dengan berbagi hasil panen kepada keluarga atau kerabat terdekat maupun pesta rakyat (Biasanya antar keluarga) dengan menikmati hasil panen tersebut. Pengucapan syukur ini merupakan ungkapan atau bentuk rasa syukur masyarakat terhadap Empun atau Empung atau i-Opo (Tuhan) terhadap hasil panen.

Pengucapan syukur ini dulunya dirayakan antar keluarga atau kerabat. Biasanya setelah masa panen berakhir, etnis-etnis ini merayakannya dengan mengolah hasil panen dari sawah atau kebun seperti padi maupun sayur-mayur. Adapun ternak disembelih dan diolah untuk dinikmati bersama di hari sesudah panen besar ini. Inilah asal mula hari pengucapan syukur di Minahasa. Karena masa menanam etnis-etnis ini berbeda-beda, sehingga masa panennya pun berbeda. Inilah sebab mengapa hari pengucapan syukur di tempat yang satu berbeda dengan tempat yang lain.

Continue reading “Asal Mula Hari Pengucapan Syukur di Minahasa”

Rumah Kopi…. Alternatif Wisata Kuliner di Manado

Rumah kopi di kota Manado, kebayang gak sih gaess dengan kata-kata sakti ini ketika kamu berkunjung ke kota Manado? Kemungkinan besar sih gak kebayang, makanya saya mau nulis nih gaess sekilas tentang rumah-rumah kopi yang berada di kota Nyiur Melambai ini. Ada apa sih di rumah kopi? Ada kopi dong,,,,hahaha,,,,gak gitu juga sih gaess, makanya wajib dibaca sampai habis yah, apa lagi buat kamu para traveler, backpacker, ataupun yang terdampar di sudut utara pulau Sulawesi ini 

Kalau kamu berkunjung ke kota Manado, kurang lengkap rasanya kalau kamu tidak mampir ke rumah kopi yang banyak terdapat di kota Manado. Rumah kopi yang ada di Manado sebenarnya sama saja sih dengan rumah kopi yang ada di tempat lain gaess, yakni tempat ngopi alias tempat nongkrong sambil ngobrol-ngobrol atau santai dengan teman-teman, kolega, maupun keluarga.

Eiitss,,,,tunggu dulu gaess,,,kalau sama dengan tempat lain ngapain kita bahas, iya kan? Haha. Gini gaess, tiap rumah kopi di berbagai pelosok bumi ini pasti punya menu pendamping buat ngopinya dong. Nah, sama halnya dengan rumah kopi yang ada di kota Manado ini gaess, pastinya terdapat menu-menu pendamping minum kopinya yang beda dengan rumah kopi yang ada di daerah lain, iya gak sih? Iya dong.

Continue reading “Rumah Kopi…. Alternatif Wisata Kuliner di Manado”

Meriahnya Festival Wanua Warembungan 2019

Hari ini dilaksanakan festival wanua Warembungan yang diselenggarakan selama tiga hari sejak tanggal 7 Maret dan selesai pada hari ini di puncak Kimuwu, desa Warembungan. Festival wanua Warembungan ini dalam rangka hari ulang tahun desa Warembungan yang sudah ada sejak 190 tahun yang lalu.

Acara Festival Wanua Warembungan in dimulai dengan napak tilas yang dimulai di desa Lotta. Desa Lotta sendiri dikenal sebagai wanua ure dalam bahasa lokal yang berarti kampung lama. Dari desa Lotta napak tilas dimulai dan sesuai jadwal, napak tilas di akhiri di desa Warembungan, tepatnya di Watu Tumani Wanua Warembungan. Napak tilas ini dilakukan juga dalam rangka mengenang dan mengambil kembali ingatan akan perjalanan leluhur-leluhur orang Warembungan yang sebenarnya berasal dari desa Lotta (Wanua Ure).

Beberapa petugas dari kepolisian terlihat sedang bertugas untuk turut menyukseskan rangkaian acara tersebut sejak hari pertama. Bersama-sama dengan masyarakat adat, ketertiban dan keamanan menjadi bagian dalam rangkaian festival ini.

Continue reading “Meriahnya Festival Wanua Warembungan 2019”

Musyawarah Besar Front Generasi Muda Bantik I

Musyawarah Besar Front Generasi Muda Bantik I

Musyawarah Besar Front Generasi Muda Bantik 11 banua yang pertama hari ini diselenggarakan, sabtu 03 November 2018. Organisasi ini sendiri dibentuk dari rasa solidaritas pemuda-pemudi suku Bantik yang ingin menjunjung tinggi kebudayaan asli suku Bantik ini. Rencananya lewat organisasi ini, rasa persaudaraan antara pemuda-pemudi berdarah Bantik dapat dipererat, bahkan kekayaan budaya suku Bantik yang kian hilang atau dilupakan akan diangkat kembali dan diperkenalkan kepada generasi muda sebagai pewaris adat dan budaya.

Front Generasi Muda sendiri awalnya hanya berdiri di Malalayang dengan nama Front Generasi Muda Bantik Minanga Malalayang, namun belakangan ini disadari dan juga digerakkan oleh beberapa pemuda Bantik seperti Rizky Karungu, Erik Mongisidi, Rendy None, dan lainnya bahwa dengan merangkul pemuda-pemudi dari negeri Bantik lainnya, diharapkan rasa kebersamaan dan persaudaraan antar sesama pemuda-pemudi suku Bantik dapat digalang dan diterapkan dalam tindak nyata dan juga adat dan budaya dapat dijunjung tinggi sehingga tidak hilang seiring perkembangan zaman. Hal ini dibenarkan oleh AKBP Drs. Reyno Bangkang dalam sambutannya.

Continue reading “Musyawarah Besar Front Generasi Muda Bantik I”

Pasar Ekstrim di Minahasa….

Pasar Ekstrim di Minahasa....

Berbelanja bahan pangan adalah bagian dari kehidupan sebagian besar masyarakat di dunia ini, tidak terkecuali di Nusantara. Di masa sekarang ini sudah banyak tersedia toko-toko swalayan yang moderen, bahkan pasar online pun mulai menguasai aktivitas jual beli di era modern ini. Walaupun demikian, pasar tradisional kelihatannya tetap memiliki tempatnya sendiri ditengah persaingan dagang yang semakin moderen dan kreatif.

Continue reading “Pasar Ekstrim di Minahasa….”

Kisah pembuangan ulama besar Kyai Modjo dan kawan-kawan di tanah Minahasa

Kisah pembuangan ulama besar Kyai Modjo dan kawan-kawan di tanah Minahasa
Gapura masuk kompleks makam Kyai Mojo

Di kecamatan Tondano Utara, Kabupaten Minahasa, terdapat makam seorang pejuang islam dari tanah Jawa. Beliau adalah Kyai Muslim Muhammad Halifah yang dikenal sebagai Kyai Modjo (1764-1849). Beliau adalah saudara dari Pangeran Diponegoro yang juga menjabat sebagai penasehat spiritualnya. Karena ikut menentang kekuasaan Belanda di Hindia-Belanda, beliau ditangkap dan diasingkan ke tanah Minahasa. Pada akhir tahun 1929, Kyai Modjo dan 63 orang pengikutnya tiba di Tondano dan selanjutnya hidup disana sampai tutup usia.

Continue reading “Kisah pembuangan ulama besar Kyai Modjo dan kawan-kawan di tanah Minahasa”

Kegembiraan Di Tengah Keramaian Manado Fiesta 2018

Kegembiraan Di Tengah Keramaian Manado Fiesta 2018

Manado yang terkenal dengan sebutan kota nyiur melambai di setiap tahunnya memiliki beberapa event yang diselenggarakan oleh pemerintah kota guna untuk memajukan pariwisata di tempat ini. Tanggal 31 Agustus ini kota Manado dimeriahkan dengan event pemkot yakni Manado Fiesta 2018. Acara ini dimeriahkan oleh beberapa instansi pemerintah dan swasta maupun organisasi masyarakat dan beberapa elemen masyarakat di luar Sulawesi Utara. Manado Fiesta 2018 ini dibagi menjadi beberapa kategori acara, yakni; Fisco tanggal 31 Agustus, Funtastic tanggal 1-5 September, Food tanggal 3-4 September, Fashion tanggal 6-7 September, Fair tanggal 5-8 September, dan Faith tanggal 9 September.

Continue reading “Kegembiraan Di Tengah Keramaian Manado Fiesta 2018”