Gunung-Gunung Di Nusantara

Indonesia adalah negara kepulauan yang terkenal dengan keindahan alam di sekitarnya. Daratan dan lautannya menyimpan banyak sekali kekayaan baik dari flora dan fauna, pesona alam sekitarnya, maupun kekayaan budaya dan sejarahnya. Salah satu dataran yang menyimpan banyak kekayaan budaya dan sejarah yang berada di Indonesia adalah daerah pegunungannya.

Secara umum, gunung diartikan sebagai dataran tinggi atau bukit yang sangat besar dan tinggi. Dataran tinggi atau bukit yang sangat besar ini biasanya dapat disebut gunung apabila ketinggiannya diatas 600 mdpl, sementara itu, pegunungan memiliki arti kumpulan gunung yang saling berdekatan. Gunung dibentuk oleh aktifitas tektonik dari dalam bumi yang menyebabkan naiknya permukaan bumi. Gunung-gunung di Indonesia sebagian masih aktif dan sebagian lagi sudah tidak aktif. Berikut nama-nama beberapa gunung yang ada di dataran kepulauan Nusantara:

Pulau Sumatera dan sekitarnya
• Peuet Sague
• Bur Ni Telong
• Leuser
• Sorikmarapi
• Tandikat
• Toba
• Masurai
• Marapi
• Talang
• Pesagi
• Kerinci
• Kaba
• Sumbing
• Gunung Besar
• Dempo
• Suoh

Pulau Jawa dan sekitarnya
• Krakatau
• Salak
• Aseupan
• Cikurai
• Manglayang
• Kiaraberes-Gagak
• Tangkuban Perahu
• Malang
• Malabar
• Sadakeling
• Papandayan
• Kendeng
• Tampomas
• Bongkok
• Gede
• Galunggung
• Cereme
• Muria
• Bisma
• Langit
• Kumbang
• Wasir Jampang
• Slamet
• Sindoro
• Merbabu
• Merapi
• Sundoro
• Dieng
• Kelut
• Arjuno-Welirang
• Tengger Caldera
• Lemongan
• Semeru
• Argapura
• Raung
• Batok
• Ijen
• Lurus

Pulau Bali, Lombok, Flores, dan sekitarnya
• Agung
• Batur
• Tambora
• Rinjani
• Sangeang Api
• Paluweh
• Cucurumbeng
• Iliboleng
• Lewotobi
• Sirung
• Liwerung
• Lowotolo
• Egon
• Kelimutu
• Iya
• Ebulobo
• Inielika
• Ranakah

Pulau Kalimantan dan sekitarnya
• Asing
• Aurbunak
• Balayan
• Bayutawar
• Batu
• Batubrok
• Batusambung
• Batutenebong
• Menyapa
• Bawang
• Beratus
• Bulu
• Bukit Raya
• Cemaru
• Halau-Halau
• Kaba
• Kerihun
• Latuk
• Liangpran
• Lumut
• Madi
• Mesangat
• Niut
• Palung
• Panjang
• Saran
• Telagalangsat
• Tikung

Pulau Sulawesi dan sekitarnya
• Dua Sudara
• Tangkoko
• Klabat
• Lokon-Empung
• Mahawu
• Soputan
• Ambang
• Awu
• Banua Wuhu
• Karangetang/Api Siau
• Ruang
• Colo/Una-Una

Kepulauan Maluku dan sekitarnya
• Dukono
• Ibu
• Gamkonora
• Gamalama
• Makian
• Bandi Api
• Serua
• Nila
• Teon

Pulau Irian Jaya dan sekitarnya
• Puncak Carstenz Pyramid
• Puncak Jaya
• Puncak Trikora
• Puncak Idenburg
• Dom
• Derabaro
• Yamin
• Yaramamafaka
• Redoura
• Togwomeri
• Puncak Mandala
• Ngga Pilimsit
• Foja
• Cyrcloop

Zaman dahulu dimana raja-raja berkuasa di Nusantara, pegunungan menjadi salah satu tempat kekuasaan ataupun tempat yang disakralkan oleh masyarakat setempat. Dalam hal ini, masyarakat setempat menamakan suatu gunung dengan pengertiannya masing-masing berdasarkan kearifan lokal di daerahnya. Kebanyakan nama gunung-gunung di masa lalu dinamakan dengan bahasa Sansekerta atau Sanskrit. Bahasa ini sudah menjadi bahasa ibu di sebagian besar daerah di Nusantara dikarenakan pengaruh kerajaan-kerajaan lampau yang menguasai Nusantara – dimana kerajaan lampau ini berada di peradaban Hindu. Bahasa Sansekerta sendiri berasal dari India, dimana bahasa ini dibawa ke tanah air oleh para pandita dan pedagang dari India dan sekitarnya di abad permulaan (Antara abad 1 sampai 5). Abad ke 7 menjadi puncak kejayaan budaya Hindu yang ditandai dengan banyaknya kerajaan-kerajaan Hindu yang ada di Nusantara. Karena hal ini, bahasa Sansekerta menjadi bahasa yang berpengaruh dan dipakai di Nusantara (Sumatera, Jawa, dan Kalimantan) selain bahasa lokal.

Bangsa Indonesia sudah mengalami beberapa percampuran budaya dari luar seperti Cina, Arab, dan bangsa Eropa baik dari sisi perdagangan maupun penjajahan/kolonialisme di Nusantara. Hal-hal ini menyebabkan beberapa kearifan lokal suatu daerah mulai berganti baik dari budaya maupun nama sebuah objek. Tidak lepas dari hal ini, beberapa nama gunung di Nusantara pun berganti. Berikut beberapa nama-nama gunung di era kejayaan kerajaan lampau dalam bahasa Sankekerta:
• Gunung Agung = Gunung Tohlangkir
• Gunung Batur = Gunung Tampurhyang
• Gunung Bromo = Gunung Brahma
• Gunung Cikuray = Gunung Srimanganti/Prawita
• Gunung Ciremai = Gunung Indrakila
• Gunung Dieng = Gunung Sang Hyang
• Gunung Galunggung = Gunung Kendyaga
• Gunung Gede = Gunung Katong/Ageung
• Gunung Karang = Gunung Nisada
• Gunung Kelud = Gunung Kampud
• Gunung Lawu = Gunung Mahendra
• Gunung Mebabu = Gunung Limohan
• Gunung Muria = Gunung Retawu
• Gunung Papandayang = Gunung Danghyang
• Gunung Penanggungan = Gunung Pawitra
• Gunung Perahu = Gunung Baito
• Gunung Raung = Gunung Semeru (Gunung semeru yang sebenarnya)
• Gunung Rinjani = Gunung Samalas
• Gunung Salak = Gunung Sapto Argo
• Gunung Slamet = Gunung amurdipa
• Gunung Semeru = Gunung Salaka
• Gunung Sumbing = Gunung Sungging
• Gunung Toba = Gunung Kelasa
• Gunung Ungaran = Gunung Sakya
• Gunung Welirang = Gunung Gora
• Gunung Wilis = Gunung Pawinihan

Masih banyak lagi nama gunung-gunung era lampau yang berganti nama, namun ada juga yang tidak berganti nama, misalnya gunung Sundoro. Sebagian nama gunung-gunung kuno di indonesia juga telah lenyap ditelan zaman sehingga nama gunungnya menggunakan nama yang baru. Selain nama gunung dalam bahasa Sansekerta, mungkin juga beberapa nama gunung memakai bahasa asli Nusantara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *