Beralihnya Suku Bantik Dari Aliran Kepercayaan Ke Agama Kristen

Suku Bantik merupakan salah satu suku yang berada di tanah Minahasa, provinsi Sulawesi Utara. Suku Bantik sendiri menjadi salah satu suku yang sejak dahulu kala sudah menempati sebagian besar daerah di kota Manado dan 2 daerah di perbatasan Minahasa dan Bolaang Mongondow. Saat ini masyarakat Bantik banyak memeluk agama Kristen dan Islam.

Suku Bantik yang berada di kota Manado mayoritas memeluk agama Kristen. Agama Kristen sendiri mulanya dibawa oleh orang-orang Eropa ketika mereka berhasil menjangkau ujung utara pulau Sulawesi. Mereka adalah bangsa Spanyol, Portugis, dan Belanda. Penyebaran agama Kristen di Minahasa memang awalnya dibawa oleh bangsa Spanyol dan Portugis, namun pada akhirnya Spanyol dan Portugis benar-benar terusir dari tanah Minahasa. Penyebaran agama Kristen ini akhirnya dilanjutkan oleh misionaris-misionaris dari negeri Belanda (Ketika Belanda mulai berkuasa di Minahasa) di kemudian hari.

Penyebaran agama Kristen di tanah Minahasa tidak dapat dikatakan berjalan dengan mudah pada awalnya. Selalu saja ada penolakan dari masyarakat setempat karena masyarakat setempat memandangnya sebagai budaya asing, terutama dalam hal ketuhanan. Oleh sebab itu pemerintah Belanda awalnya lebih berfokus membangun peradaban di tanah Minahasa. Sambil membangun peradaban, Injil pun terus diberitakan. Ketika banyak dari suku di Minahasa mulai menerima peradaban, disinilah agama Kristen mulai diterima oleh masyarakat setempat.


Banyak contoh yang positif sebenarnya ketika suku yang dulunya disebut ‘Alifuru’ oleh bangsa Belanda mulai mengenal peradaban. Sebagai contoh yang positif; Orang yang perpapasan satu sama lain mulai mengucapkan salam (Dulunya tidak) atau kebersihan lingkungan suku-suku asli yang mulai terjaga. Selain itu, dunia pendidikan dan keterampilan yang diperkenalkan oleh bangsa Belanda ini dapat menjadi hal yang positif dan berguna bagi kelangsungan peradaban di tanah Minahasa sehingga bangsa Minahasa menjadi lebih baik dari era-era sebelumnya. Lepas dari semua hal yang positif ini, memang secara histori pemerintah Belanda memiliki kepentingannya sendiri di Nusantara dan hal ini tidak dapat disebut atau dikategorikan sebagai hal yang positif.

Pengenalan akan peradaban dan agama Kristen sendiri pada suku Bantik merupakan upaya yang luar biasa. Hal ini dirasakan oleh pemerintah Belanda, terutama para misionari yang menyebarkan agama Kristen pada suku Bantik. Suku Bantik sendiri dikenal sangat memegang teguh tradisinya sehingga sangat tidak mudah untuk memperkenalkan hal yang baru pada suku ini. Bahkan beberapa catatan menuliskan bahwa sesudah sebagian besar dari masyarakat Bantik ini dibabtis (Menerima agama Kristen), banyak dari mereka tetap kembali kepada kepercayaannya yang lama.

Menurut catatan seorang penginjil bernama N. Graafland (Yang menulis buku ‘De Minahasa: Haar verlenden en haar tegenwoordige toestand’ tahun 1869) yang melakukan perjalanan di ujung utara pulau Sulawesi pada pertengahan abad ke 19, suku Bantik merupakan suku yang kacau, liar, kasar, dan lain sebagainya. Diantara rakyat Minahasa, suku Bantik merupakan suku yang sangat ditakuti dan yang paling sulit dikendalikan. Suku Bantik sendiri sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kepercayaan dan tradisinya, juga sangat menutup diri terhadap budaya asing.

N. Graffland juga dalam catatannya mengatakan bahwa disaat negeri-negeri lain sudah mengenal peradaban, namun di Bantik masih menunjukkan ciri khas ‘Alifiru’, sebagai contoh bentuk rumah tradisional yang tidak teratur atau kebiasaan memelihara rambut panjang dimana pada suku Minahasa lainnya sudah tidak dilakukan. Salah satu hal yang paling buruk adalah suku Bantik masih diam-diam melakukan pengayauan (Potong kepala) yang merupakan budaya kuno rumpun Austronesia. Hal inilah salah satu penyebab dimana suku Bantik tidak pernah akur dengan negeri tetangganya. Memang pada dasarnya suku Bantik gemar berperang dan menjadi teror bagi negeri-negeri tetangganya. Hal ini dibenarkan oleh seorang naturalis asal Inggris yang bernama Sidney J. Hickson yang pernah berkunjung ke tanah Minahasa tahun 1885, juga pernah ditulis oleh seorang penginjil Belanda J.H. Duyverman pada catatan perjalanannya di Minahasa.

Kepercayaan lama suku Bantik kurang lebih sama dengan kepercayaan-kepercayaan kuno yang ada di tanah Minahasa. Pada umumnya, suku-suku di Minahasa beraliran Shamanisme atau percaya kepada roh-roh leluhur. Perjumpaan dengan roh-roh leluhur dilakukan pada berbagai foso atau ritual. Suku Bantik sendiri memanggil roh leluhurnya pada beberapa foso atau ritual. Salah satu ritual yang terkenal adalah ‘Mongolrai’ yakni ritual untuk mengobati orang sakit.

Selain hal-hal yang telah disebutkan, ada satu kepercayaan kuno suku Bantik tentang ketuhanan. Masyarakat Bantik umumnya menyebut Tuhan dengan panggilan ‘Mabu Duata’ atau ‘i Opo Lramo’. Penyebutan ‘Duata’ menurut A.C. Kruijt dalam bukunya ‘Het Animisme in den Indischen Archipel’ tahun 1906 ini dapat dihubungkan dengan penyebutan ‘Dewata’ pada bahasa Sansekerta. Selain itu kata yang mirip dapat ditemukan pada masyarakat Siau yakni ‘Ruata’, pada masyarakat Jawa ‘Juwata’ atau ‘Jawata’, dan pada masyarakat Dayak ‘Jubata’ atau ‘Jata’ pada suku Dayak Ngaju.

Terdapat juga satu hal yang menarik yang pernah ditulis oleh J.G.F. Riedel dimana leluhur suku Bantik dulunya berdoa pada batu yang dikeramatkan. Batu ini bernama batu Madengkei yang berada di gunung Bantik. Hal ini juga ditulis kembali oleh Louis De Backer (Seorang berkebangsaan Perancis) dalam bukunya dimana suku Bantik dulunya sangat mengeramatkan batu Madengkei ini. Disinilah tempat suku Bantik dulunya berdoa, kemungkinan juga asal mula suku Bantik berdoa di batu. Cerita ini juga pernah ditulis oleh Stortenbeker dan Van Limburg Brouwer dalam bukunya dengan menggunakan bahasa Bantik.

Lepas dari kepercayaan tentang batu keramat, suku Bantik zaman dahulu juga percaya akan suara burung, gugusan bintang, dan lain sebagainya. Hal-hal yang demikian ditemukan di sekitar lingkungan hidup masyarakat Bantik sendiri. Dengan kata lain, suku Bantik memiliki petunjuk-petunjuk keilahian dari alam sekitarnya.

Kepercayaan kuno masyarakat Bantik ini terus berakar dan dipegang teguh oleh segenap masyarakat Bantik hingga akhirnya kepercayaan-kepercayaan ini sebagian besar berakhir ketika agama Kristen mulai diterima oleh mayoritas suku Bantik yang ada pada saat itu. Penyebaran agama Kristen yang diberitakan oleh para penginjil-penginjil asal Belanda ini tidak luput dari peran besar masyarakat Bantik itu sendiri.

Salah satu orang yang berdarah Bantik yang begitu giatnya menyebarkan agama Kristen adalah Majoor Arnoldus Petrus Mandagi, seorang kepala distrik Bantik. Beliau begitu dihormati dan disegani oleh segenap masyarakat Bantik. Hal ini sudah pasti karena beliau merupakan kepala distrik Bantik. Jabatan kepala distrik ini nantinya ada setelah era Belanda berkuasa di tanah Minahasa dimana dulunya pada suku Bantik, seorang kepala suku bergelar ‘Gudangne’.

Arnoldus Mandagi sebagai kepala distrik Bantik yang sebagian besar masih ‘alifuru’ atau berpegang teguh pada kepercayaan leluhur sepertinya merupakan seorang Kristen yang giat dan taat beragama (Kristen). Hal ini terlihat pada syair yang ditulisnya tentang perjalannya di negeri-negeri Bantik dalam menyiarkan berita Injil kepada segenap penduduk Bantik. Dalam syair yang ditulis oleh Arnoldus Mandagi, tergambar situasi kehidupan masyarakat Bantik pada saat itu.

Syair yang ditulis oleh Arnoldus Mandagi diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda oleh pendeta J. Ten Hove, yakni seorang pendeta pembantu di daerah Maumbi pada saat itu. Beliau cukup dekat dengan Arnoldus Mandagi.

Berikut syair tentang perjalanan Arnoldus Mandagi dalam menyebarkan agama Kristen kepada masyarakat Bantik yang ditulis dengan sesuai dengan naskah aslinya:

Nama saja Arnoldus Mandagi
Kapala district bahagian Bantik
Lagi Dejakim didalam bendar
Bagi Agama Indjil yang benar

Setelah saja djoendjoeng djawatan
Soedah sedija satoe ingatan
Terbit hadjatkoe didalam hati
Hendak merombak Agama Kafir

Soedah berdirilah district Bantik
Banjak kapala berganti-ganti
Tiada satoe diantaranja
Soedah merombak Agamanja

Saja mendjadi Hoeloe penarik
Seperti Gombala djalan mentjahri
Memberi hiboeran sini dan sana
Pada samoewa bala-balanja

Bermoela saja mentjahri daja
Hiboer orang di bendar saja
Pada boewang sembah berhala
Laloe mengikut Agama Allah

Sekarang ini saja katakan
Bagi kamoe ada hadapan
Hei khaum jang satiawan
Mari sehati kami berkawan

Agar berdjalanlah ramei-ramei
Tjahri Toehan Penghoeloe damei
Karena ijalah anak Allah
Pegang kawasa deri segala

Kamoe sahati saramei-ramei
Boewang Dewata masok serani
Agama Indjil jang teroetama
Soedah tersiar koeliling tanah

Dengan pendek saja katakan
Satoe Nasiet saja tambahkan
Pada kamoe seperi soedara
Timbang-menimbang ini perkara

Saja menariklah istri saja
Toeroet Agama poenja perkara
Pada beladjar ilmoe Indjil
Sampei terima mendjadi sidi

Saja mengambillah satoe tempoh
Sambil berkoeda ka negeri Bengkol
Pengharapan toeloengan Allah
Akan oebahkan hati bala

Saja sampeilah waktoe sijang
Laloe koempoel banjak Walijan
Bilang tjeriteralah roepa-roepa
Agar samoewa dapat bersoeka

Marika itoe soedah katakan
Maksoed apalah toewan datang
Sedang tiada habar njatakan
Kedjoet terlaloe toewan hadapan

Saja menjahoet itoe pakatan
Roh Allah menjoeroh datang
Selakoe mimpi saja berdjalan
Dengan nijet hendak bermalam

Saja pileh saorang moeda
Pergi ka Boeha menoenggang koeda
Koempoel bala dan Hoekoem Toewa
Lagi Walijan datang samoewa

Pada malamlah djam dolapan
Banjak orang datang hadapan
Soedah berkoempoel moeda dan toewa
Didalam roemah Hoekoem Toewa

Saja moelai ator bitjara
Ambil akal saperi soedara
Serta katakan: “Ja anak bala,
Djangan kamoe berfikir salah.”

Kamoe pegang deri dahoeloe
Pakei Agamalah alifoeroe
Pertjaja oelar pertjaja boeroeng
Sembah berhala di loeroeng-loeroeng

Kaloe kamoelah poengoet padi
Kamoe boenoehlah satoe babi
Panggil Sethan samoewa datang
Minta diorang samoewa makan

Tapi samoewalah itu tjoelas
Hai padoedoek segenap Boeha
Kamoe kira itoe berhala
Pegang kawasa seperti Allah?

Kamoe memboewang mata katinggi
Melihat langit dan boemi ini
Toehan Allah sudah kerdjakan
Serta pijara dan perentahkan

Kamoe pandang doenja yang loeas
Tangan siapa soedah berboewat
Melaikan Isa dan Allah Bapa
Soedah bekerja toeroet kawasa

Sekarang ini saja titahkan
Agama kafir kamoe lepaskan
Karena agamalah datoemojang
Itoe ada salah atoeran

Agama itoe membawa roegi
Sadja tjarilah orang pudji
Menghadap majet doedoek menjanji
Lajin minoem lajin menangis

Lajin boenoeh sembilan babi
Toeroet atoran haros berbahgi
Sasaoranglah satoe potong
Orang jang soesah tertinggal kosong

Sekarang saja merombak itoe
Boewang tabijetlah sabagitoe
Saja akan panggil Pandita
Pada datanglah permandikan

Saja koentjikan itoe adjaran
Kapada bala orang berkawan
Nijet saja hendak berdjalan
Milir ka negerilah Talawaan

Deri Bengkol saja berangkat
Hampir malamlah djam ampat
Antara djalan saja moenadjat
Minta toehan tetapkan hadjat

Waktoe sampei di negeri itoe
Berhadap bala orang disitoe
Toendjoek hormat rendahkan badan
Mengambil tingka orang berdagang

Djam lima sampeilah saja
Doedoek berhenti mentjari daja
Laloe beritalah Hoekoem toewa
Panggil Walijan datang samoewa

Waktoe soedahlah berhadapan
Saja moelah ator pekatan
Kaseh atoeran sedikit tempoh
Seperti nasijet di negeri Bengkol

Sijang pagi saja sendiri
Mengambil ajer mentjutji diri
Nijet saja berkoeda poelang
Singga sedikit negeri Bailang

Djam sembilan sampei disitoe
Panggil Hoekoem Toewa di negeri itoe
Saja doedoek tiada lama
Ator bitjara djalan Agama

Saja doedoek berfikir oelang
Ka negeri Singkillah saja poelang
Sampei di roemah saja salamat
Berdjoempa Istri dan anak

Didalam negeri berhari-hari
Saja djalankan titah doenjawi
Toeroet djawatan poenja terminta
Haros poenohkan segala titah

Hati saja bimbang terlaloe
Menjoeroh doewa orang berkajoe
Pergi ka Meras koempoelkan orang
Datang di Molas dengar atoeran

Di negeri Molas saja bernanti
Terbit fikiran berganti-ganti
Pengharapan toeloengan Allah
Akan baserta di lida saja

Saja moelai ator bitjara
Agama indjil poenja perkara
Soedah terpoedji di Boemi ini
Sagenap Europa sampei disini

Agama Indjil poenya perkara
Tiada lajin melainkan Allah
Pegang kawasa sekaljen Alam
Lagi perentah sijang dan malam

Karena Allah Bapa katakan
Hendak menjoeroh anaknja datang
Anaknja itoe namanja Isa
Datang didoenja menanggoeng siksa

Sebab mendjadi Penoeboes dosa
Sambil diberikanlah hal santosa
Pada sijapa soeka bertobat
Toehan Isa menjadi sobat

Tidak saorang didalam doenja
Apatah boleh seboet semporna
Melainkan Toehan Halik ElIsa
Penghoeloe damei dan pohon berkat

Kamoe timbang Agama kafir
Toewan siapa djadi pengatoer
Hanja terbitlah kapandeian
Seri satoe-satoe Walijan

Toehan Isa Allah serahkan
Pegang kawasa tiga Djawatan
Sulthan, Radja, Nabi jang tamat
Koewat kekalan Radja salamat

Kamoe dengar saja artikan
Bagaimana Toehan Allah titahkan
Sawatoe djiwa tinggalkan badan
Saperi hidoepnja boenga di Padang

Welakin elok bagoes berwarna
Tapi tiada tertinggal lama
Bila angin kena padanja
Laloe goegoer deri tjabannja

Bagitoe djoega maut mendatang
Tapi tidak sama chloek sampat njatakan
Karena malamlah dengan sijang
Perdjalanan maut seperti pentjoerian

Satoe Hikajet sekarang membilang
Tenang doewa anak terhilang
Memboeroeskanlah banjak harta
Mendapat soesah mentjahri Bapa

Bapa menjambot laloe bertitah
Bantei domba memboeat festa
Mendjempoet sobat menjamoe makan
Sambot anak terhilang datang

Bagitoe lagi orang berdosa
Djika bertobat dapat santosa
Saoemoer Allah tidakan boewang
Hanja terima dalam pangkoean

Karena Toehan soedah sedija
Sorga jang tinggi negeri moeljia
Itoelah tampat orang bertobat
Sampei kakal tinggal bersobat

Agama Indjil saperi palita
Memberi tjahaja tidak berkotika
Menerangkan goenoeng dan hoetan
Serta Lembah sampei Lautan

Toeroet Noeboeetlah Nabi Bilam
Sabda Hoewa poela membilang
Bintang Jacob akan berdjalan
Mengondjongi disagenap malam

Soedah djadi waktoe dahoeloe
Tiga lelaki orang jang toeloes
Abednedjoe, Zadrak, dan Mezak
Melawan Soelthan Neboekadnesar

Tiada toeroet sembah berhala
Sebab berbakti kapada Allah
Dapat poetoesan mati sengsara
Masoek di tanoer api bernjala

Sulthan terseboet soedah titahkan
Tamboenan kajoe orang kerdjakan
Masokkan pada tiga lelaki
Hoekoem dibakarlah sampei mati

Katiga orang soedah sahati
Serahkan diri welakin mati
Tapi tiada sembah berhala
Hidop dan mati kawasa Allah

Soedah datang samelaikat
Boekakan api mendjadi sipat
Sampei lenjap tamboenan tanoer
Tiga lelaki tiada hangoes

Kamoe timbang itoe perkara
Boetapa besar kasawa Allah
Sijapa tinggal dalam pertjaja
Dapat loepoet deri bahaja

Hei anak bala boeta dan toeli
Djangan hidop seperti loeri
Serahkan diri sethan kasawa
Pimpin kamo dalam naraka

Kawasa sethan itoelah pendjirat
Jang ikat kamoe dalam achirat
Sambil diboewang kadalam api
Toeboh dan djiwa dibakar mati

Saja mohon toewan samoewa
Memberi soekoer kapada Hoewa
Karena Halaik jang kakarosan
Dengan berkat saja rombokkan

Saja mendjadi perkakas Isa
Haros bekerdja welakin siksa
Sekarang soedah dapat memandang
Halaik lijar masok di kandang

Toewan Pandita, Tenhove namanja
Soedah berdjalan sini dan sana
Permandikan orang berganti-ganti
Anam negeri pasisir Bantik

Toebohnja penat sebab berdjalan
Mendapat negeri ija bermalam
Roh datang salakoe titah
Soeroh kibarkanlah pandji Isa

Bangon pagi djalan kakali
Soetjikan diri poelang kombali
Bertitah saja tjahrikan orang
Datang menengar segala atoeran

Saja soedah tjahri ingatan
Bernanti doewalah toewan datang
Satelah soedah doedoek hadapan
Saja moelai atoer pakatan

Kadoewa toewan hadap disini
Dengarlah kata berikoet ini
Saja minta djangan membijar
Anak bala mendjadi lijar

Toeroet atoeran stoe kapala
Haros mengambil peri Gombala
Gombalakan domba sini dan sana
Tarik dekat dalam Agama

Nasijet pendek saja katakan
Toewan djoega pintar berakal
Tjahri daja kaseh atoeran
Menarik bala dengan hiboeran

Sagerah tjahri sulthan satija
Jang koewat berkat tinggi moelija
Ijalah pohon sagenap terangnja
Tinggal bersinarlah salamanja

Karena Sethan Raja jang golap
Jang mengidari di Boemi genap
Tetapi Toehan soedah berperang
Di Ringkit kaba Toehan menang

Maksoed in saja njatakan
Toewan Katib saja habarkan
Katakan hormat seraja minta
Toewan datanglah permandikan

Soedah toenggoeh berhari-hari
Sahingga dapat habar kombali
Boenjinja soerat soeroh titahkan
Hari doeminggoe Pandita datang

Hampir malamlah djam ampat
Banjak orang soedah salangkap
Dengar riwajet poenja atoeran
Mengadjar damei dan penghiboeran

Toewan Pandita, Verhoeff namanja
Soedah berdiri diantaranja
Permandikan orang berganti-ganti
Di negeri Singkil bahagian Bantik

Lain boelan habarpon datang
Deri toewan pandita Graffland
Hendak sarani orang berkawan
Bantik Kalasej dan Malalajang

Bekan saja orang berdosa
Menondjok djalan tjahri santosa
Kapada khaum jang terkeras
Berpahalakan Halats besar

Beratoes tahon Bantik Halaik
Melawan Allah Bapa jang baik
Oleh nimet klak diberitakan
Iblis dan sethan dimeroesakkan

Soedah djadi didalam kampoeng
Lelaki Bantik namanja Mangkoe
Soedah mengakoelah dengan damei
Boewang Agamanja masok sarani

Djadi pada satoe kotika
Pandita datanglah permandikan
Orang terseboet oendoer pekatan
Hingga tiada ija datang

Satoe waktoe dalam koempoelan
Ada berkoempoellah banjak orang
Saja panggil Mangkoe berdiri
Datang berhadap angkau sendiri

Berkata: Mangkoe saorang moeda
Mengapa pakei hadat biloedak
Songgoh angkau lidanja doewa
Tjahri dosa melawan Hoewa

Angkau dengar saja tjeritera
Adam dan Hawa melawan titah
Pertjaja oelar loepakan Allah
Mentjahri diri ampoenja salah

Dosa itoe timboel dimoeka
Mendjadi pintoe maut terboeka
Tetapi Toehan soedah katakan
Akan menjoeroh penghoeloe datang

Penghoeloe itulah Toehan Isa
Jang soedah datang menanggong siksa
Soedah datang saperi Gombala
Pada poenohkanlah ferman Allah

Noeboeet itoe Daud ingatkan
Menjoerat dalam masmoer dolapan
Anaknja Isa Bapa tetapkan
Samoewa kawasa Bapa serahkan

Kamoedien tiga orang Madjoes
Soedah melihat bintang soeboe
Disabelah Timoerlah kalihatan
Tanda Moehalitslah soedah datang

Patoet kamilah samoewanja
Hendak berbakti dan beri hormatnja
Berkat bapanja mengondjongi dija
Karena anak Adam datanglah ija

Hei kamoe lari segerahkan
Lepas berhala Radja persalahan
Amas dan perak benda binasa
Poesaka sethan itoelah naraka

Toehan Isa Penghoeloe damei
Toeloeng Elia di boekit Karmel
Perang ampat ratoes Mawei-baal
Semoewanja kalah Elia menang

Sendjata Toehan boekannja parang
Hanja Adalet dan kabenaran
Nimet, Moerah, dan kasawanja
Sampei kakal tidak hingganja

Bagitoe Mangkoe dhatoh katanah
Diantaralah orang banjak
Tidak saorang sampat berkata
Lihat perkara jang soedah njata

Berkata: “Mangkoe bangoen sekarang,
Dengarlah saja poenja adjaran
Djikalau angkau boewang Halaik
Berkat Allahlah angkau baik”

Bangoenlah Mangkoe berlambat-lambat,
Berkata: “Toewan, ampoenkan hamba
Hamba mengakoelah soedah salah,
Berboeat dosa melawan Allah”

Barang heran saja sijarkan
Agar mendjadi satoe ingatan
Melawan Bapa dan Toehan Isa
Itoelah dosa jang penghabisan

Bangoenlah saja satoe fikiran
Ingat Hananja dengan Safira
Djoewal Bendang simpan harganja
Dimoeka Petrus mati kadoewanja

Satoe katikalah soedah djadi
Saperampoean nama Dadae
Djanda deri Majoor jang mati
Kapala district di negeri Bantik

Perampoen itoe Walijan jang toewa
Deri Bantik Singkil samoewa
Soedah dapat satoe bahaja
Dengan penjakit jang amat paja

Pada malam satengah toedjoeh
Soerohan datanglah dengan boeroe
Panggil padalah isteri saja
Melihat Dadai terlaloe paja

Isterikoe soedah menimbang baik
Minta toeloengan toewan Hoewai
Boeat soerat Panggil Pandita
Hendak datanglah permandikan

Istrikoe soedah kaseh perentah
Hoekoem toewa naik kareta
Sambil bawa soerat mohonan
Kapada toewan Pandita Touffman

Toewan Touffman Pandita Sangi
Membatja soerat laloe berdjandji
Toewan toenggoe tiada lama
Saja berpakei pergi sesama

Sekira-kiralah djam sembilan
Satoe soerohan datang membilang
Toewan Panditalah soedah ada
Minta Njonja datang berhadap

Njonja keloear toendjoek roepanja
Memberi hormat dengan rendahnja
Berkata doedoek toewan Pandita
Dengarkan saja poenja tjeritera

Njonja berkata: “ini sekarang,
Soewamikoe, tiga hari berdjalan
Pandita, Controleur pergi sesama,
Periksa negeri sini dan sana

Toewan Pandita mengangkat kata
Njonja panggil madsoednja apa?
Mohon Njonja djangan alpakan
Dengan segera saja adakan

Maafkan saja saperampoean
Ambil kahendak memanggil toewan
Minta sarani Iboe jang sakit
Dihadapanlah doewa saksi

Saja soeroh bakas Meweteng
Panggil toewan Matoelameten
Dan Toehateloe Dejakim toewa
Minta datang toewan berdoewa

Toewan Touffman soedah berdiri
Berkata pada Dadae sendiri
Djikalau angkau boewang Halaik
Berkat Allahlah angkau baik

Bekan Dadae terlaloe paja
Roepa terlepas deri bahaja
Memboeka mata hendak meliat
Keloearkan soeara berkata “ija”

Toewan Pandita berdiri dekat
Toetoep tangan meminta berkat
Dengan doewa saksi sertanja
Permandikan Dadae ganti namanja

Soedah dipakei Marijam namanja
Mantoelameten djadi bapanja
Namanja itoe soedah tetapkan
Anak dan tjoetjoe ada hadapan

Toewan Pandita kaseh hiboeran
Dihadapanlah banjak orang
Berkata djangan berfikir salah
Tinggal berharap kapada Allah

Pandita minta dengan bersoeka
Toemboek toeri tjampoerkan tjoeka
Tampal kapala sapoe didada
Tarik panas didalam badan

Pandita soedah memanggil Njonja
Pegang tangan toendjoekkan hormat
Minta doewea orang sertanja
Hentar sampei dalam roemahnja

Doewa harilah dibelakang
Isterikoe soedah soeroh habarkan
Maksoednja Dadae dalam sakitan
Pandita soedah permandikan

Djam sembilan malam goelita
Pandita Touffmanlah permandikan
Sambil dipakei Marijam namanja
Anak dan tjoetjoe ada sertanja

Berikot itoe telah habarkan
Barang jang soedah Allah ingatkan
Berkat Allah soedah bangkitkan
Dadae somboh deri sakitan

Boetapa moerahlah Toehan Isa
Menoeloeng orang didalam siksa
Berboeat dosa deri moedanja
Toehan amponilah samoeanja

Saja ingat Daud katakan
Menjoerat dalam masmoer dolapan
Anaknja Isa Bapa tetapkan
Samoewa kawasa Bapa serahkan

Sekali djadi habarpon datang
Deri toewan Pandita Graffland
Hendak tjahri Halaik berkawan
Didalam Negerilah Malalajang

Kotika itoe isterikoe pergi
Dengan anakja bernama Neeltji
Hiboer Halaik bantoe kerdjakoe
Pandita sarani orang berratoes

G. J. Koopman Controleur jang toeloes
Djalankan akal bidjak dan haloes
Menambahkan koewat dalam kardjakoe
Hingga hadjatkoe dapat berlakoe

O soedara-soedarakoe jang satija
Ingat Hikajet Sulthan Josia
Tiadakan berhala dalam tanahnja
Goena orang dalam perentahnja

Sampei disini Toehan loeaskan
Pikiran tidak dapat tambahkan
Soekoer bagi Allah jang moerah amat
Di ajet ini katakan tamat

Maafkan, ampon, o, Toewan
Baik lelaki dan perampoean
Sijapa batja djangan hinakan
Apa jang salah toeloeng oebahkan

2 Replies to “Beralihnya Suku Bantik Dari Aliran Kepercayaan Ke Agama Kristen”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *