Asal Mula Hari Pengucapan Syukur di Minahasa

Hari pengucapan syukur atau biasa disingkat pengucapan merupakan tradisi masyarakat Minahasa pada umumnya. Hari raya ini sudah melekat pada masyarakat Minahasa sejak zaman dahulu kala. Tidak ada yang tahu pasti sejak kapan tradisi dimulai namun masyarakat Minahasa sudah melakukan tradisi ini turun temurun dari leluhur mereka sehingga pada hari-hari sekarang ini tradisi hari pengucapan syukur ini sudah menjadi bagian dari budaya Minahasa.

Pengucapan syukur dulunya merupakan hari sesudah panen besar yang dilakukan oleh etnis-etnis di Minahasa. Masa sesudah panen ini biasanya dirayakan oleh masyarakat adat dengan berbagi hasil panen kepada keluarga atau kerabat terdekat maupun pesta rakyat (Biasanya antar keluarga) dengan menikmati hasil panen tersebut. Pengucapan syukur ini merupakan ungkapan atau bentuk rasa syukur masyarakat terhadap Empun atau Empung atau i-Opo (Tuhan) terhadap hasil panen.

Pengucapan syukur ini dulunya dirayakan antar keluarga atau kerabat. Biasanya setelah masa panen berakhir, etnis-etnis ini merayakannya dengan mengolah hasil panen dari sawah atau kebun seperti padi maupun sayur-mayur. Adapun ternak disembelih dan diolah untuk dinikmati bersama di hari sesudah panen besar ini. Inilah asal mula hari pengucapan syukur di Minahasa. Karena masa menanam etnis-etnis ini berbeda-beda, sehingga masa panennya pun berbeda. Inilah sebab mengapa hari pengucapan syukur di tempat yang satu berbeda dengan tempat yang lain.

Berjalan lebih jauh dari masa menanam tumbuh-tumbuhan dan masa panen besar, ternyata kepercayaan masyarakat Minahasa kuno sudah mengajarkan makna mengucap syukur terhadap Sang Pencipta. Hal ini ditunjukkan oleh masyarakat Toumbulu. Menurut tradisi turun temurun, dulunya terdapat Foso Rumages Um Banua, yakni ritual adat untuk mempersembahkan hasil panen maupun ternak kepada Empung Wailan Wangko (Tuhan). Tradisi ini adalah sebagai bentuk ungkapan syukur terhadap Sang Pencipta karena berkat yang diberikan kepada masyarakat Toumbulu.

Ritual Rumages Um Banua dulunya dilakukan oleh masyarakat Toumbulu setelah selesai masa panen. Adapun Raragesan atau persembahan dari binatang yakni ayam yang paling terbaik. Ritual ini dilakukan sebelum matahari terbit dimana sebenarnya ritual ini mengandung filosofi bahwa ada semangat yang baru. Selain itu, persembahan dalam ritual ini ada yang diberikan kepada Empung Wailan Wangko, namun ada juga yang diberikan kepada roh-roh leluhur.

Lain halnya di Bantik, masyarakat Toubantik lampau mengenal sistem Poposaden (Mapalus pada suku Minahasa lainnya) yang berarti gotong royong. Poposaden ini juga diterapkan dalam mengolah hasil kebun. Biasanya keluarga atau kerabat dekat akan pergi bersama-sama memanen hasil kebun tersebut, terutama masa panen besar. Hasil kebun ini nantinya akan dibagi-bagi kepada keluarga maupun kerabat dekat sebagai bentuk ucapan syukur kepada i-Opo Lramo (Tuhan) atas berkat yang melimpah.

Begitu juga halnya dalam kegiatan berburu hewan, ada tradisi kuno pada masyarakat Toubantik ketika mendapatkan hewan buruan. Saat seseorang pulang dengan hasil buruan dan bertemu orang di jalan, biasanya dia akan memberikan sedikit dari hasil buruannya kepada setiap orang yang ditemui di jalan. Apabila hal ini tidak dilakukan, ada suatu kepercayaan pada masyarakat ini bahwasannya perburuan berikutnya tidak akan berjalan dengan baik. Hal ini dihubungkan dengan kepercayaan kuno Toubantik tentang pemberian Sang Pencipta kepada umatNya. Adapun pemberian hasil panen atau hasil buruan yang diberikan secara sukarela ini disebut Habua.

Sejak masuknya bangsa Eropa dan agama Kristen di tanah Minahasa, peradaban Eropa dikenalkan dan mulai diterapkan kepada etnis-etnis yang ada di Minahasa ini. Agama Kristen perlahan-lahan mulai memengaruhi adat dan budaya pada masyarakat setempat. Penduduk lokal yang dulunya menganut kepercayaan shamanisme mulai berpindah ke agama Kristen. Karena bertentangan dengan agama Kristen, beberapa ritual atau foso mulai ditinggalkan, sampai kepada satu waktu dimana ritual dan foso ini tidak terlihat lagi.

Ritual-ritual dan adat istiadat pada hari sesudah panen besar pada masyarakat Minahasa pun tidak lagi dilakukan oleh kebanyakan orang. Selain pengaruh agama Kristen, dampak peradaban yang lebih moderen membuat sebagian dari masyarakat mulai meninggalkan pekerjaan bercocok tanam atau berkebun. Walaupun demikian, sepertinya nilai-nilai ungkapan syukur kepada Sang Pencipta atas hari panen itu tidaklah hilang. Hari pengucapan syukur pun mulai bertransformasi. Walaupun beberapa keluarga tidaklah bercocok tanam atau berkebun, namun masa sesudah panen besar tetap dirayakan. Tetap ada sukacita dan pesta kecil dari rumah ke rumah.

Di era sekarang ini, tradisi hari pengucapan syukur pun tidak hilang. Walaupun sebagian besar masyarakat sudah tidak bercocok tanam atau berkebun, namun tetap saja tradisi pengucapan syukur ini masih dilakukan. Memang sudah tidak ada lagi foso atau ritual yang dilakukan, namun tradisi makan bersama baik keluarga maupun kerabat antar rumah ke rumah masih menjadi bagian dari masyarakat Minahasa pada umumnya di era sekarang ini. Kelihatannya, tradisi ini sudah menjadi budaya yang melekat erat pada masyarakat Minahasa, dimana budaya ini juga didukung penuh oleh pemerintah setempat. Adapun hari-hari pengucapan syukur di Minahasa pada masa sekarang ini dilaksanakan setiap tahun pada tanggal:
• 7 Juli di Minahasa Tenggara
• 14 Juli di Minahasa Selatan
• 21 Juli di Minahasa
• 4 Agustus di Manado
• 11 Agustus di Tomohon
• 6 Oktober di Bitung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *