Adat Lama Orang Minahasa Di Era Lampau

Sejarah dan adat lama orang Minahasa dalam perkembangannya terus diperbincangkan bahkan ada hal-hal yang diperdebatkan. Hal ini mungkin begitu menarik, khususnya bagi orang Minahasa itu sendiri karena asal-usul orang Minahasa banyak yang masih bersifat misteri. Kebanyakan sejarah Minahasa berasal dari tuturan turun-temurun. Literatur-literatur yang didapatkan untuk mempelajari sejarah Minahasa kebanyakan berasal dari catatan maupun buku-buku tua orang Eropa yang pernah menduduki daerah Minahasa dalam periode yang cukup lama, misalnya Belanda.

Minahasa sendiri merupakan salah satu suku atau etnis yang besar yang berada di provinsi Sulawesi Utara. Di provinsi Sulawesi Utara ini, etnis Minahasa hidup berdampingan dengan etnis atau suku-suku lainnya yang sudah sejak dulu kala mendiami dataran ini. Berdasarkan sejarah dan ilmu antropologi, terdapat 3 suku bangsa besar yang mendiami daerah-daerah di provinsi ini, yakni Minahasa, Mongondow, dan Sangihe-Talaud.

Suku atau etnis Minahasa sendiri sebenarnya merupakan kumpulan dari 9 suku yang bersatu dan bersepakat untuk menyebut diri Minahasa dan mengakui satu leluhur yakni Toar dan Lumimuut. Menurut asal-usul katanya, Minahasa sendiri artinya menjadi satu. Suku-suku yang tergabung dalam kesatuan Minahasa ini berdasarkan catatan sejarah adalah Tompakewa atau Tountemboan, Tounsea, Tombulu, Toundano atau Toulour, Toundanouw atau Tonsawang, Pasan, Ratahan, Ponosakan, dan Bantik.

Kebanyakan literatur-literatur asing yang dipakai untuk mengetahui kehidupan sehari-hari orang Minahasa dulunya merupakan buku atau dokumen yang mencatat kehidupan orang Minahasa sebelum mengenal agama dimana literatur ini dicatat oleh petinggi-petinggi pemerintahan Hindia-Belanda maupun para misionaris dari Eropa yang berada di tanah Minahasa. Kehidupan saat itu sangat jauh berbeda dengan kehidupan orang Minahasa di masa sekarang.

Kehidupan spiritual orang Minahasa kuno berkaitan erat dengan Sang Pencipta maupun leluhur-leluhurnya. Di sini bisa dikatakan bahwa para leluhur bisa disetarakan sebagai para Dewa atau penguasa alam roh dalam level kehidupan spiritualnya. Sang Pencipta adalah yang tertinggi, biasa disebut dengan sebutan Amang Kasuruan, Opo Wananatas, maupun Opo Wailan Wangko. Selain itu, terdapat deretan penguasa alam roh yang biasa disebut sebagai Dotu atau Opo. Karema dan Lumimuut merupakan Dotu perempuan yang tertinggi, sedangkan Toar merupakan Dotu laki-laki yang tertinggi. Setelah itu ada deretan Dewa-Dewi kecil seperti Dotu Soputan, Lokon, Rumengan, Totokai, Linkanbene, dan lain sebagainya.

Dulunya terdapat berbagai macam adat atau kebiasaan seperti ritual atau foso yang dilakukan untuk mencapai suatu tujuan dalam kehidupan secara spiritual. Ritual-ritual tradisional ini melibatkan peran seorang Walian atau pemuka agama dan benda atau media untuk kegiatan spiritual tersebut. Hal ini juga rasanya berlaku di berbagai kegiatan spiritual tradisional di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Berikut di bawah ini sebagian kecil dari adat-istiadat lampau yang dulunya pernah ada di tanah Minahasa:

Adat kelahiran anak

Untuk orang Minahasa kuno, mendapat anak laki-laki atau perempuan tidaklah terlalu penting. Mereka beranggapan bahwa anak laki-laki akan membantu orang tua di kemudian hari dan anak perempuan akan memberikan uang. Secara umum, persepsi masyarakat dulu bahwa tanpa anak tidak akan bahagia namun terlalu banyak anak justru tidak beruntung. Pada saat kelahiran anak, seorang ayah tidak harus merasa perlu untuk hadir (Berbeda dengan adat beberapa suku lain di nusantara) dan biasanya ayah dari bayi yang akan lahir justru berada di tempat berbeda karena keperluan yang lain. Lepas dari itu, yang hadir sering kali justru anggota keluarga dari sang ayah.

Setelah 2 atau 3 hari ke depan (Setelah kelahiran anak) berdasarkan tradisi, mereka akan mengadakan foso (Ritual) yang disebut menurunkan anak. Foso ini maksudnya menurunkan anak dari rumah. Pada orang Tombulu ini disebut iroyor si oki, pada orang Toumpakewa, ini disebut iroyor si toyaang. Biasanya pada ritual ini dipanggil 2 bahkan sampai 4 Walian (Pemimpin agama). Di depan tangga bawah rumah, bayi ini akan dimandikan oleh seorang perempuan. Permandian ini sebenarnya hanya membasahkan kepala bayi tersebut. Menurut kepercayaan lama, bayi tersebut dikatakan sial apabila kebetulan ada orang yang lewat lalu bersin pada saat dimandikan.

Kebahagiaannya akan sukar di masa mendatang. Setelah hal tadi dilakukan, bayi tadi akan kembali dibawa ke atas rumah dan ritual biasanya berlanjut pada hari esoknya. Di hari berikutnya, bayi kembali dibawa ke bawah kemudian akan ada pemotongan babi (Korban untuk Dewa/leluhur). Bayi ini harus menyentuh babi sebanyak 3 kali. Di beberapa tempat, sang ibu juga menyentuh babi ini. Maksud dari prosesi ini adalah agar para Dewa/leluhur mengetahui bahwa korban ini dipersembahkan atas nama si bayi tadi.

Di waktu yang lain, bayi akan dibawa ke sungai dengan iring-iringan anggota keluarga. Iring-iringan ini dihadiri Walian yang membawa api, batok kelapa, dan kemiri. Maksud dari benda-benda yang dibawa Walian tadi adalah untuk mengusir setan yan mengikuti atau mengintai bayi ini dan menjauhkan bayi dari serangan sakit-penyakit. Ketika sampai di sungai, Walian akan mengambil tali emas yang disebut kelana (Pada orang Toulour, kelana berarti kalung manik-manik). Kelana ini menujukkan status dan bukti kekayaan yang dikalungkan di leher.

Walian mengambil kemiri dari tempurung kelapa dan membasahi kelana dan kemiri tadi dengan air kemudian memandikan si bayi sambil mengucap iroyang in dano unsakit dengan maksud membuang sakit-penyakit di sungai. Selain bayi, sang ibu juga dimandikan. Setelah ini, ritual di air selesai. Setelah ritual di air selesai, semua orang kembali ke rumah dengan iring-iringan seperti tadi.

Sampai di rumah, hewan korban yang disembelih dipanggang dan dibersihkan lalu dibawa ke dalam rumah sementara si Walian terus berbicara dalam bahasa makatana sambil menyebut nama-nama Opo (Para Dewa). Walian akan meramal nasib bayi ini sambil memberkati sang bayi agar hari-harinya kedepan bahagia dan diberkati. Hewan korban yang sudah dipanggang tadi akan dibagi-bagikan oleh Walian, setelah itu ritual ini selesai.


Adat Perkawinan

Umumnya pada perkawinan orang Minahasa, terdapat suatu kebiasaan seperti mengantar harta kepada keluarga wanita. Hal seperti ini juga berlaku di beberapa daerah di Indonesia seperti di Sulawesi Selatan, Kalimantan, Jawa, Sumatera, dan beberapa daerah lainnya di nusantara. Orang Eropa pada zaman dahulu mungkin mengganggap budaya ini seakan-akan sang pria membeli istri kepada orang tua calon istrinya, namun hakikatnya budaya ini pada orang Minahasa berarti sang pria telah layak untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya nanti.

Budaya ini dulunya disebut Bowang atau ‘Kasih harta’ atau dalam bahasa melayu kasar disebut ‘Memberi harta’. Orang Tombulu menyebutnya Mehe Roko, sementara orang Tompakewa menyebutnya Mee Aroro. Adapun bahasa alifuru purba disebut Ateran yang artinya membawa barang.

Umumnya, kehidupan sosial masyarakat terutama muda mudi yang sedang dalam masa perkenalan atau mencari pasangan terjadi dalam kegiatan seperti mapalus, makan bersama, nyanyi-nyanyian bersama, baik di kampung ataupun di kebun. Selain itu ada juga pesta-pesta rakyat yang dilakukan dimana kegiatan ini memungkinkan muda mudi untuk berkenalan dengan lawan jenisnya. Selain mencari atau berkenalan sendiri, ada juga sebagian masyarakat yang masih memilihkan jodoh untuk anaknya. Tidak jarang, perjodohan ini berjalan dengan tidak baik bahkan sampai berseteru dengan keluarga sendiri.

Apabila telah diputuskan bahwa akan diadakan perkawinan, orang tua si pemuda atau orang yang dituakan di keluarga (Misanya kakek atau nenek) akan datang mengunjungi rumah si gadis untuk meminta kepada keluarga perihal perkawinan ini. Apabila keluarga si gadis setuju, maka percakapan akan diteruskan ke arah mahar atau bahasanya roko (Tombulu) atau aroro (Tompakewa).

Di beberapa daerah, keluarga si pria akan menyediakan sembilan buah pinang, sembilan lembar daun sirih, perhiasan dari emas atau perak, yang semua dibungkus dengan kain katun merah (Disebut kain benggali). Pada era sebelumnya (Minahasa kuno), apabila si gadis dari keluarga orang berada, si pemuda harus pergi memotong kepala di daerah lain (Suku lain) dan membawanya ke keluarga si gadis sebagai bukti (Bisa jadi sebagai bukti keperkasaan si pemuda atau mungkin syarat untuk ritual perkawinan).

Pada hari yang telah ditentukan, kedua belah pihak akan bertemu. Sambil memakan pinang, pembicaraan mengenai mahar akan dilakukan. Umur si gadis, kecantikan, dan kekayaan akan memengaruhi jumlah mahar. Selain itu, apakah si gadis pernah kawin atau belum juga berpengaruh. Apabila ia sudah pernah kawin, jumlah mahar biasanya rendah.

Perlu diketahui, orang kaya atau kepala negeri biasanya jarang mengawinkan anak gadis mereka dengan orang bawahan. Di Bantik, bahkan ada adat yang melarang untuk kawin dengan suku lain, namun kelihatannya beberapa orang mengawinkan anak gadisnya dengan seorang pemuda dari suku lain yang memiliki nama (Seorang pahlawan atau kepala negeri) di daerahnya.

Jumlah mahar memang bervariasi, biasanya mahar tertinggi adalah 100 potong salempuri, seekor kuda, sebuah gong, alat musik tradisional satu pasang, satu orang budak, ataupun sebidang tanah. Di era orang Minahasa mengenal uang Belanda, mahar dari yang terendah sampai tertinggi berkisar antara 12-100 gulden. Selain itu, Pendeta Graafland pernah menyinggung mahar termahal yaitu 1000 gulden. Sekali waktu, pendeta Graafland pernah meminta daftar mahar dari para orang tua dan daftar mahar itu meliputi:
1. Tanah
2. Empang
3. Kuda
4. Pohon sagu
5. Babi
6. Kelana (Manik-manik)
7. Kain patola
8. Kain linen hitam
9. Kain linen cina
10. Kain putih
11. Kain katun merah
12. Cangkir
13. Piring kecil
14. Piring makan
Selain memberikan beberapa mahar seperti di atas, adapun setiap keluarga yang berkumpul harus diberi sesuatu.

Apabila mahar telah terpenuhi, maka hari perkawinan sudah bisa ditentukan. Di hari perkawinan, iring-iringan dari keluarga si pemuda segera menuju ke rumah calon pengantin. Di rumah, pemuda ini duduk berdampingan dengan calon istrinya kemudian Walian mengambil pinang lalu mengunyahnya dengan sirih dan kapur lalu memberikannya kepada si pemuda untuk dikunyah juga, begitu juga selanjutnya kepada pengantin wanita. Saat mengunyah, tidak boleh meludah setetes pun.

Setelah itu, Walian akan mengambil nasi yang terbungkus daun, mematahkannya menjadi dua, lalu mengambil sedikit nasi dari dalamnya dan meletakkannya di keempat sudut meja. Sisanya akan diberi kepada pengantin pria dan wanita masing-masing separuh. Walian juga mengambil sepotong babi melakukannya dengan cara yang sama tadi. Sesudah ini, Walian mengambil seruas bambu berisi saguer dan menyiramkan beberapa tetes pada keempat sudut meja lalu dituangkan ke dalam pelepah pohon woka.

Daun silar yang telah dilipat dipakai sebagai sendok untuk diberikan kepada pengantin untuk diminum. Setelah ini, pengantin pergi ke tempat tersendiri (Kamar tidur) dan para tamu mulai berpesta (Makan dan minum). Setelah makan dan minum, para tamu akan pergi ke rumah pengantin pria. Biasanya ini dilakukan keesokan harinya atau beberapa hari sesudahnya. Pengantin wanita dan keluarganya akan pergi ke rumah pengantin pria.

Sebelum memasuki rumah pengantin pria, pengantin wanita akan diberi kain linen lalu ia naik ke atas dan masuk ke rumah. Di rumah telah diadakan pesta atau makan bersama. Sebelum makan, pengantin wanita akan diberi sepotong kain hitam. Setelah makan bersama selesai, kedua pengantin ini telah resmi menjadi sepasang suami istri.

Dalam tradisi orang Minahasa, masih ada beberapa foso di hari berikut setelah menikah yang harus dilakukan. Hal ini dianggap untuk mendatangkan kebaikan bagi pasangan baru ini. Orang Minahasa hanya mengenal satu istri atau monogami sesuai tradisi Minahasa kuno. Apabila terdapat poligami, hal ini hanya berlaku pada kalangan tertentu.

Adat Kematian

Kematian adalah hal yang sangat penting bagi manusia sebagai mahkluk sosial. Dalam adat dan kebudayaan orang Minahasa, penghormatan terhadap orang yang meninggal sangatlah tinggi. Hal ini tentu saja berhubungan dengan kepercayaan orang Minahasa kuno dimana arwah leluhur menjaga mengawasi keturunannya.

Zaman dahulu ketika peristiwa kematian anak atau seorang yang muda, ritual pemakaman yang dilakukan mungkin berjalan dengan cepat, namun hal ini berbeda dengan seseorang yang sudah tua. Menjelang tanda-tanda kematian terhadap seseorang, orang yang akan meninggal ini didudukkan dengan tangan bersilang di dada atau dibaringkan dengan kaki ditarik ke atas hingga kedua lutut menyentuh dagu.

Ketika orang ini benar-benar sudah meninggal, jasadnya dibungkus kain linen dan ditempatkan diatas kursi yang dihiasi dengan kain. Kursi itu diberi langit-langit dari kain linen dan kain kafan merah (Pada suku Bantik, Pasan, dan beberapa daerah lain, warna merah tidak diperbolehkan pada ritual pemakaman), juga terdapat tirai dan jumbai-jumbainya.

Pada masyarakat Tombulu, kursi mayat ini disebut Lululeran. Kegiatan ini merupakan bagian pertama dari upacara pemakaman. Pada beberapa orang yang kaya, terkadang di kursi mayat diletakkan segenggam padi dan di bawah kursi diletakkan sekeranjang beras.

Di beberapa tempat, orang juga menaruh sepiring nasi dan sebutir telur rebus di bawah dagu orang yang meninggal lalu menyisipkan pinang ke dalam mulut jasad. Terkadang juga yang dimasukkan ke dalam mulut jasad adalah segulung tembakau yang berasap. Pada masyarakat Tombulu, pemberian kepada orang yang meninggal ini disebut Sarean. Jenasah ini akan terus berada di kursi hingga dibawa ke pemakaman.

Di tempat pemakaman, keluarga yang ditinggal (Suami/Istri) ditutupi beberapa potong kain oleh seorang wanita tua (Pemuka agama yang disebut Eresan) kemudian dalam keadaan demikian ia diantar ke jenasah. Setelah itu ia diberikan seserpih pinang lalu berkat dan salam perpisahan diucapkan kemudian ia ditarik keluar. Setelah itu wanita tua tadi mengantarkan keluarga yang ditinggal tadi pulang ke rumah dan yang berduka harus duduk dengan kaki diatas padi (Untuk menangis).

Seorang diantara mereka mengambil sepotong pinang lalu berbicara untuk mengusir roh orang mati. Menurut kepercayaan, roh orang yang meninggal akan datang kembali kepada Walian supaya Walian memberitahukan sebab kematiannya. Kejadian ini disebut Itarek.

Pemakaman orang Minahasa dahulu menggunakan sebuah sarkofagus yang disebut waruga. Setiba di waruga, keluarga akan mengangkat tutup waruga itu lalu memasukkan jasad orang yang baru meninggal ke dalamnya. Perhiasan pada jenasah diambil, namun beberapa orang juga menguburkan keluarganya tanpa mengambil perhiasannya bahkan menambahkan barang-barang kesayangannya ketika dia hidup.

Sesudah itu, waruga ditutup kembali. Di tempat pemakaman itu terdapat belanga dari tanah liat yang diisi nasi, piring, botol, pakaian, jarum, benang, saguer, payung, dan lain-lain. Bila yang dimakamkan adalah seseorang yang terkemuka, biasanya akan dinyalakan lampu selama beberapa malam. Budaya pasang lampu ini masih ada sampai saat ini.

Di zaman Minahasa kuno sebelum kedatangan bangsa Eropa, dahulu disertakan beberapa kepala manusia yang di potong yang diletakkan di pemakaman. Jumlahnya satu, tiga, atau sembilan. Jumlah yang tertinggi adalah tiga kali sembilan. Semakin tinggi kedudukan orang yang meninggal, semakin banyak pula jumlah kepala yang harus disertakan. Selain tradisi ini, terdapat juga kepercayaan dimana dahulu kala waruga dibuat oleh orang yang akan tinggal di dalamnya. Pada situs cagar budaya Waruga Sawangan, terdapat relief di muka pintu pagar kompleks waruga yang bercerita tentang proses pembuatan waruga ini oleh si pembuat sampai ia nanti diletakkan di dalamnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *